Thursday, June 21, 2007

Jebakan "Masa Lalu"

"Perih dalam kalbu
Membayang masa depan
Mengkhayal akan datang

Terjebak masa lalu
Terikat imajinasi semu"

Menumbuhkan orientasi masa depan merupakan sebuah tugas setiap manusia. Setiap orang memiliki tahapan kemajuan hidup, semakin dewasa semakin kompleks persoalan hidupnya. Ada tantangan baru, ada keinginan baru, ada usaha yang lebih keras untuk mencapainya.

Artinya, pedoman hidup mengalir saja adalah pedoman di akhir usaha. Bukan di awal. Yakin bahwa Tuhan sudah mencukupi rejeki dan menetapkan segala takdir pasti; jodoh dan mati, merupakan hal yang harus dilakukan setelah usaha keras luar biasa.

Mari berdialog dengan diri sendiri. Berapa usiamu? Berapa waktu yang telah kau habiskan untuk berbuat kebajikan? Berapa juga yang untuk ke-bajingan? Mari jujur dengan nurani. Mari membuka diri sejujur-jujurnya. Mengungkapkan apa yang ’menjadi kenyataan’ dan bukan ’apa yang diimpikan’.

Semua itu untuk menuntun diri memahami apa yang harus segera dilakukan dan diperbuat. Itu harus diteruskan dengan penyusunan strategic planning bagi individu. Jika selama ini kita hanya membicarakan apa yang kita impikan, maka sekarang ijinkan kita membuka diri, membicarakan apa yang sudah kita capai. Sesuatu yang benar-benar nyata dan ada. Bukan sesuatu yang kita dramatisir, dilebih-lebihkan dan manipulatif. Yang itu sesungguhnya adalah candu yang akan memberi ketenangan hanya sesaat lalu akan hilang dan kita terjerembab jurang realitas.

Sesuatu yang menyakitkan saat terbangun dari sebuah keterlenaan panjang akibat narkoba angan-angan. Tiba-tiba kita menyaksikan tubuh kita ringkih, sakit, kulit semakin keriput dan penuh bekas suntikan. Otot-otot juga kejang, padahal baru saja kita berimajinasi tinggi dan fly. Mengawang tanpa batas.

Karena itu, segera buat lembaran yang akan mengurai apa yang telah terjadi dan apa yang akan menjadi mimpi. Yang itu harus terealisasi di esok hari. Menjadi sebuah kenyataan yang akan dinikmati.

Mari mengubah tangis kegeraman akan stagnasi diri menjadi energi besar untuk masa depan lebih baik. Mari berfikir sederhana dan apa adanya. Tidak usah lagi mendramatisir sesuatu yang sebenarnya sederhana. Semisal ukuran kemapanan dan kebahagiaan. Mari sadari dan menggunakan logika orang biasa. Tinggalkan cara berfikir ’menara gading’ yang jarang menyentuh kenyataan.

Kemapanan jelas adalah kemandirian ekonomi. Hal itu juga berpengaruh terhadap status sosial di mata publik. Akan berbicara mengenai kemandirian finansial, ternyata uang untuk mencukupi kebutuhan hidup masih harus menadahkan tangan kepada orang tua merupakan sesuatu yang memalukan. Lakukan usaha apa saja untuk memandirikan diri—asal tetap dalam koridor kehalalan sumbernya!

No comments:

Post a Comment