Friday, June 29, 2007

BJMP Kami

Bulan Juni ini adalah bulan yang paling merosot semangat menulis bagi saya. Entah kenapa, satu bulan ini, tidak ada satu tulisan berbobot yang bisa saya hasilkan. Seakan tidak ada waktu untuk menulis. Walaupun saya sadari, semata-mata karena kemalasan. Jawaban klasik yang sangat menyebalkan. Kata 'malas' sebetulnya adalah akar segala persoalan, sekaligus penghalang kreativitas dan inovasi. Benar kata seorang kawan, "tidak ada yang namanya waktu luang, yang ada adalah: anda harus meluangkan waktu!"

Hal ini juga berkaitan dengan jadwal hidup. Kepadatan jadwal kerja, sering menjadi alasan untuk tidak menulis. Padahal menulis adalah saat dimana kelelahan fisik dan mental bertumpuk, lalu curahan sepenuhnya terarah pada tusts keyboard. Media pelampiasan paling privat adalah tulisan. Tidak ada yang akan menginterupsi anda selagi anda menulis di kesendirian. Kemarahan, kegelisahan, kerinduan, dan cinta akan sangat lancar tertuangkan. Bahkan kebuntuan ide seperti yang sedang saya alami sekarang ini.

Sekali lagi, saya teringat adegan William Forrester saat menceramahi Jamal Wallace dalam film Finding Forrester. Si kakek tua itu mengetukkan jarinya teramat kuat di atas mesin ketik tuanya. Berkeretak, membentuk irama aneh di telinga. "Ayo lakukan!" teriaknya kepada anak muda negro yang terbengong di depannya. "Apa yang harus dilakukan?" tanya Jamal. "Menulis." jawab Forrester, "menulislah dahulu, jangan berfikir!", pungkasnya.

***
Kadang saya merasa perlu membuat sebuah pengakuan dosa. Kami setiap hari Jumat sore berkumpul di rumah apung. Di kampus IAIN Antasari Banjarmasin, tepat di depan Fakultas Tarbiyah, berdiri sebuah bangunan yang akrab di sebut rumah apung, karena memang berdiri di atas "kolam" yang berisi air lumut. Di sana, kami berdiskusi tentang jurnalistik dan kepenulisan. Sekaligus mendeklarasikan berdirinya BJMP (Bengkel Jurnalistik Mahasiswa Profetik).

Satu bulan ini adalah masa paling tidak produktif. Diskusi kami menjadi wacana belaka. Semangat kata tanpa aksi. Kesibukan menjadi alasan lagi. Saya sangat memaklumi kawan-kawan BJMP yang juga bergiat di BEM, organ ekstra kampus dan berbagai UKM. Saya sangat melumrahi itu. Tapi, ini juga harus diperbaiki. Lalu evaluasi kami lakukan sore tadi. Seluruh aktivis BJMP berkumpul, menyerahkan sebuah draft yang disebut "Surat Komitmen".

Saya terbengong, demikian seriuskah kawan-kawan? Syukurlah, batin saya, kegelisahan akan tidak produktifnya kami, menjadi sebuah perasaan kolektif. Ketika sebuah masalah dirasakan oleh seluruh elemen dalam kelompok tersebut, niscaya penyelesaian dan kreativitas baru akan muncul. Setidaknya kami berada dalam frekuensi perasaan yang sama. Baik kepemilikan, tanggungjawab memajukan, dan kesediaan berkorban untuk komunitas ini.

Terimakasih kawan-kawan, masih bersedia menghidupkan sebuah komunitas penulis. Menulis adalah tugas peradaban. Yang membedakan peradaban dan tidak adalah tulisan. Karena itu zaman yang tak terdefinisi, disebut sebagai zaman pra-sejarah.[]

1 comment:

  1. Tolong beri izin saya, untuk mengambil tulisan ini, buat dijadikan profil bulan maret. Tapi sebagai bahan perbandingan saja.

    ReplyDelete