Thursday, May 24, 2007

Mandul Setelah Menikah

Mohon jangan disalahpahami judul di atas. Semata-mata untuk memudahkan analogi saja. Tulisan ini berangkat dari beberapa kenyataan yang saya jumpai. Seorang kawan kenalan saya, adalah orang yang suka menulis. Apa saja dia tulis: kejadian hari ini, warna sandal baru, bentuk kemeja, joke dosen, hingga jajanan di kantin kampus. Tapi itu dulu. Saat masih kuliah. Saat masih berstatus mahasiswa.

Saat ini, saya menyaksikan sebuah perubahan. Setelah bekerja dan menikah, justru seorang kawan saya itu mengalami kemandulan dalam berkarya. Setelah menggandeng seorang gadis, nampaknya agak terepotkan dengan agenda keluarga, dengan pekerjaan yang menumpuk dan entah kerewelan-kerewelan dengan segala variannya.

Saya belum menikah. Dan belum pernah menikah. Ketika melihat sosok produktif di masa lalu--walaupun hanya tulisan-tulisan untuk diskusi limited group--mengalami gejala mandul dalam menulis seperti itu saya merenung. Kesibukan lapangan sering menyita waktu. Dal, sekali lagi, waktu disalahkan atas tidak bisa lahirnya sebuah karya tulis. Detik-detik yang digunakan mengais rezeki di luar rumah, yang jauh dari komputer, laptop, mesin ketik atau alat tulis lainnya.

Sementara, detik yang hilang terlewat itu hanya menyisakan sebuah kelelahan saat kaki menginjak pintu rumah. Lepas sepatu, lempar baju, merebahkan diri. Ketika bangun, kesibukan domestik (dapur, sumur dan kasur) menanti jamahan. Lepas sudah waktu yang diangankan untuk menggoreskan sesuatu di layar komputer.

Secara pribadi, saya kadang khawatir gejala impotensi intelektual itu. Apalagi semalam saya berbincang dengan kawan jauh di Purwokerto, katanya dia mengalami sebuah pembelokan orientasi. Pekerjaan lapangan menyebabkan semangat menulis menurun pula. Tapi saya yakin, dia akan tetap menulis. Karena menulis adalah nyawa baginya. Ya nggak mas Ipunk?

Baiklah, ini hanya percikan kontemplasi saja. Semoga kita tetap mau menulis. Apapun itu. Karena disebut sejarah, ketika ada tulisan diwariskan. Kecuali jika anda ingin hidup di masa pra-sejara, segera matikan komputer anda, tidak usah menulis, bermain Nintendo saja...[]

3 comments:

  1. dulu aku suka nulis yang berbau pemikiran, pemberontakan dan perlawanan. walaupun tak banyak tersiarkan, biasa, penolakan demi penolakan media kuhadapi. kini aku lebih suka menulis yang "ringan" dan kontemplatif, bukan apa-apa. hanya tak ingin membebani pembaca. orang jaman sekarang mau membaca saja sudah syukur, jadi membebani pembaca dengan tulisan yang ruwet, njlimet bukan hal yang bijak bukan..

    nah, web blog, media untuk itu, berbagi pengalaman spiritual dari hati ke hati. kalau ingin serius ke ranah intelektual, buku dan media cetak mungkin ladangnya.
    begitu bro, sayang daku belum bisa menggapai ke arah sana, ironis memang dikala usia semakin senja dan tuntutan "perut" kadang tak mau membuka dialektika :-)

    ReplyDelete
  2. Daya juang yang dimiliki oleh mereka yang sudah menikah memang harus lebih besar karena kehidupan pernikahan sarat dengan ujian dan perjuangan juga limpahan pahala, karenanya Allah telah mengatakan mereka yang menikah telah menyempurnakan diennya.Jadi...Kapan undangannya?

    ReplyDelete
  3. Sabar kang, paling itu karena seperti kata temen-temen terlalu euforia waktu awal-awal menikah. Ha3...Nanti juga ketemu ritmenya..

    ReplyDelete