Tuesday, May 22, 2007

Gerak Jalan yang Fantastik

Malam itu, kami menginap di pendapa bupati Hulu Sungai Selatan. Pendapa yang luas itu memiliki dua lokal, depan dan belakang. Yang depan hanyalah aula yang luas, sementara sebelah dalam aula yang di setiap sudutnya terdapat kamar. Di kamar itulah saya tidur bersama tiga tokoh politik yang saya bersamai. Sepertinya, kamar ini memang biasa untuk menginap para tamu pejabat. Standar hotel bintang 3, lengkap dengan kamar mandi dalam, AC, TV dan minuman ringan di kulkas dinginnya. Nyaman jua, pang.

Sesuai kesepakatan, acara pokok kedatangan Habib ke kota Kandangan ini adalah untuk melepas dan mendampingi para peserta jalan sehat yang diorganisir oleh Amandit Event Organizer, sebuah lembaga pengembangan dari Radio Gema Amandit milik Pemda HSS. Selain itu, bekerjasama dengan Indosat, Fatigon dan tentu saja Partai Keadilan Sejahtera yang mendapat pemilih terbesar di kabupaten ini.

Pagi itu, saya bangun, segera mempersiapkan perangkat kerja. Handycam, kamera digital dan MP4 recorder sudah ada di tangan. Batere dan memori juga sudah saya cek. Lalu keluar ruangan. Pukul 06.30, peserta jalan sehat sudah berdatangan. Sampai malam terakhir pendaftar tercatat sejumlah 18.500 orang. Jika seluruh pendaftar hadir, maka itu sangat spektakuler. Sepertiga penduduk Kandangan memenuhi lapangan kota.

Dan, benar. Manusia penuh sesak di lapangan Lambung Mangkurat itu. Puluhan ribu, tua muda, lelaki perempuan, besar kecil, semuanya ada di sana. Gadis-gadis dengan pakaian modis berjajar rapi, sementara ada juga ibu-ibu dengan kereta dorong yang membawa bayi-bayi lucu mereka. Ada juga yang menggandeng pasangannya dengan mesra.

Sambil menunggu pembukaan, peserta jalan sehat dihibur dengan lantunan gambus. Lirik yang seluruhnya berbahasa Arab itu dinyanyikan dua orang vokalis, lelaki dan perempuan. Wajah keduanya agak kearaban, mungkin termasuk blasteran Arab. Grup musik gambus ini disewa dari kabupaten Banjar.

Di panggung yang berdiri kokoh di pinggir lapangan itu, hadiah-hadiah disusun rapi. Satu buah sepeda motor Suzuki Smash, kulkas, kpas angin dan sebagainya. Sementara itu, panggung perterpal warna biru berdiri di depan panggung. Berderet puluhan kursi bagi "kalangan terhormat" yang menjadi undangan dalam acara itu.

Anak-anak kecil berteriak tak sabar karena matahari semakin tinggi. Akhirnya acara dibuka. Pertama ada pidato dari Bupati HSS, Dr. Muhammad Safi'i, M.Si. Pidatonya berisi ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah hadir dan khususnya PKS yang memprakarsai acara ini, dan bersedia menghadirkan Habib Aboe Bakar al-Habsyi dari Jakarta. Selebihnya adalah harapan agar masyarakat semakin memperhatikan masalah kesehatan jasad.

Acara dilanjutkan dengan taujih Habib Aboe. "Kandangan, harat banar!", teriak Habib setelah mengucap salam. "Harat banar!" dijawab oleh ribuan orang di bawah podium. Harat banar, bahasa Banjar, berarti "hebat banget". Dalam rangka hari kebangkitan nasional ini, mari kita bangkitkan semangat kita menata negeri, papar Habib. Tanggal 20 Mei adalah tanggal yang monumental, kita harus memperingatinya dengan semangat pula. Sepertinya, Habib sangat memahami psikologi massa. Taujihnya tidak terlalu banyak, justru yel-yel dan takbir lebih banyak berkumandang. Hidup Kandangan! Allahu Akbar!, tutup Habib.

Lalu, dengan mengucap basmalah, bendera start itu diangkat ke atas. Mengalirlah puluhan ribu orang itu ke depan. Dari atas podium saya mengarahkan handycam, tatapan mata para peserta cukup takjub menyaksikan seorang Habib yang sangat mereka cintai dan puja ternyata bersedia ikut gerak jalan. Pagi itu, habib mengenakan kaos yang disediakan panitia, berwarna putih, dengan logo Amandit Organizer dan PKS di dada kanan. Dipadu dengan training dan sepatu warna putih. Kacamata hitam dikenakan rapi. Karena modis itulah, peserta yang sempat membawa HP berkamera segera mengambil gambar Habib sambil berdesak-desakan.

Jarak yang hanya 3 kilometer menyebabkan kemacetan di seluruh sudut kota. Ketika kepala sudah hampir mencapai finish, ekor barisan baru bergerak meninggalkan lapangan start. Hampir saja bertemu kepala sama ekor. Luar biasa fantastik. Bahkan, sehari sebelumnya, saya sempat mendengar cerita bahwa para ibu-ibu protes kepada bupati. Sebabnya karena seluruh tukang becak mengikuti acara ini, sehingga tidak ada yang mengangkut sayur ke pasar. Akhirnya penjual sayur itupun ikut jalan sehat sekalian.

Ketika seluruh peserta sudah mencapai finish, pembagian hadian dilakukan. Sebelum undian dilaksanakan, ada pembagian hadiah untuk lomba Pildacil tingkat kabupaten HSS dan lomba Adzan. Sebelum hadiah diserahkan, para pemenang diminta menunjukkan kebolehannya. Juara pertama lomba Pildacil, seorang gadis kecil bernama--jika tidak lupa--Muniatul Musfirah. Dengan lantang dia menuturkan berbagai ayat, tema tausiahnya adalah "Pemimpin yang Adil dan Jujur". Nampaknya gadis kecil itu sangat percaya diri. Ucapannya fasih dan jelas. Paparannya juga mudah dicerna. Dalam usia yang sangat belia, dia sudah mampu memukau para hadirin.

Di tengah tausiyahnya, tiba-tiba dari belakang muncul mobil pemadam kebakaran. Menyemprotkan air ke ribuan orang yang bergerombol di bawah. Karuan saja, mereka berlarian menghindari air. Tapi sayang, tak ada ruang sisa untuk berlindung. Akhirnya, seluruhnya basah kuyup. Termasuk beberapa pejabat di tenda biru itu.

Setelah selesai, habib didaulat untuk menyerahkan hadiah. Sambil mencium dan menggendong juara kedua Pildacil yang anak lelaki berusia 7 tahun, Habib Aboe menyerahkan piala. Selain itu, juga uang tunai 1000.000 rupiah.

Setelah pembagian hadiah, Habib pamit. Ada undangan di kediaman Guru Ridwan di daerah Kapuh, Telaga Bidadari, HSS. Saya juga harus pamit, setelah menyaksikan lautan manusia di lapangan Lambung Mangkurat itu.[]

No comments:

Post a Comment