Wednesday, May 30, 2007

Dai Cilik di Televisi

Televisi nampaknya makin cerdas untuk menarik pemirsanya. Berbagai macam bentuk tayangan dibuat sebagai sarana hiburan dan informasi. Seakan berlomba mereka menciptakan program acara yang menyentuh berbagai macam segmen. Dari anak-anak hingga kakek-nenek, disediakan program acara. Mulai dari jam penayangan hingga materi acara, mencoba disesuaikan dengan usia pemirsa.

Namun, televisi tetaplah sebuah media yang dingin (cold medium) sebagaimana kata McLuhan. Media ini kaku dan tidak komunikatif. Ditonton orang atau tidak, dia tetap mengudara, sesuai waktunya. Akhirnya banyak tayangan yang harusnya dikonsumsi oleh orang dewasa menjadi tontonan anak-anak. Atau pada beberapa kondisi, acara yang harusnya untuk anak-anak justru “dimuati” dengan kepentingan orang dewasa. Karena itu, setiap acara TV haruslah kita cermati.

Salah satu tayangan yang menarik dan nampaknya mendapat apresiasi positif dari masyarakat luas adalah Pemilihan Dai Cilik, yang biasa disingkat dengan Pildacil. Program ini ditayangkan di stasiun Lativi setiap Minggu malam pada prime-time. Apresiasi positif ini sangat mencolok di kota Banjarmasin, hampir seluruh instansi besar, misalnya, mengadakan acara nonton bareng dengan menggunakan layar lebar. Terlebih, pada minggu-minggu ini terdapat peserta Pildacil yang berasal dari Banjarmasin. Tidak cukup itu, untuk menarik penonton, dibagikanlah doorprize di akhir acara.

Sebagaimana yang diharapkan, Pildacil adalah tontonan yang menarik dan mendidik bagi anak-anak kita. Karena itu, perlu ada analisis yang mengaitkan antara Pildacil sebagai produk media televisi dengan visi pendidikan dunia anak. Dua sektor ini, televisi dan anak memang sangat berkaitan.

Tidak dapat dipungkiri, tayangan Pildacil juga melahirkan efek positif. Pildacil membuat orang tua ‘bercermin’ terhadap dirinya sendiri. Nasehat, tausiyah dan kadang sindiran yang tajam keluar dari mulut mungil, kadang ditingkahi dengan gerak tubuh yang lucu. Keluguan anak-anak ini menyebabkan nilai-nilai kebaikan yang diucapkan, akan masuk ke hati pendengarnya. Pildacil, juga telah membangun inspirasi dan motivasi para orang tua untuk lebih ‘serius’ mendidik anak-anaknya.

Sementara bagi anak yang menjadi peserta, akan juga terpacu untuk menghafal dan mempelajari Al-Quran, hadist dan doa. Dalam beberapa tampilan, mereka juga mampu melantunkan beberapa bait syair, nasyid, bahkan pantun. Comtoh yang diberikan oleh dai yang tampil, lalu akan diteladani oleh anak-anak yang menonton.

Namun, terdapat beberapa sorotan terhadap Pildacil ini. Pertama, tentang efektivitas dakwah layar kaca. Banyak pengamat berpendapat bahwa melalui televisi, Islam yang semula adalah ‘tuntunan’ telah terdegradasi menjadi sekedar ‘tontonan’ atau bahkan ‘komoditas hiburan’ sekedar untuk meraup keuntungan melalui iklan dan pulsa SMS. Substansi atau tujuan dakwah layar kaca memang patut diapresiasi, namun acapkali metode yang digunakan tak selalu selaras dengan kemuliaan substansi.

Bagaimanapun, motif utama membuat sebuah program TV adalah motif bisnis atau ekonomi. Karena bermotif ekonomi, maka modifikasi dari kontes western minded ini menyisakan persoalan, terutama soal penggunaan SMS sebagai penentu kemenangan. Bila kita merujuk pada fatwa MUI yang memasukkan beberapa metode kuis undian SMS di TV sebagai judi, maka apakah bisa dikatakan bahwa pola SMS Pildacil ini masih masuk kategori judi? Karena tidak tertutup kemungkinan, orang mengirim SMS bukan hendak memberi dukungan tapi semata-mata berharap mendapat hadiah yang dijanjikan. Jika ini yang terjadi, maka substansi menebar nilai-nilai kebaikan justru ’tereliminasi’ oleh motif-motif duniawi belaka.

Kedua, tentang kemenangan yang ditentukan oleh besarnya kiriman SMS dari pemirsa. Di sinilah letak penyebab biasnya makna keunggulan. Kultur khas Indonesia menyebabkan seseorang mengirim SMS dukungan semata-mata karena kesamaan geografis, kekerabatan, historis, ikatan emosional, dan sebab-sebab lain yang sebenarnya di luar konteks kompetisi.

Didukung lagi dengan sikap finalis—yang jelas diajari oleh kakak pembimbing—dengan menyebut nama-nama pejabat daerah, dan celetukan khas asal mereka. Ini bukan sebuah kesalahan, hanya saja obyektivitas pemirsa lalu menjadi bias. Diakui maupun tidak, sedikit saja orang yang mengirim SMS dukungan karena betul-betul melihat dari kacamata obyektif, mampu menemukan faktor keunggulan seorang finalis dengan finalis lainnya, seperti penguasaan dalil, makhorijul huruf, substansi materi, ketinggian bahasa, hafalan al-Quran, ibadah harian, dan kemampuan komunikasinya.

Ketika sudah ada yang tereliminasi, lalu keluar dari kompetisi, dia dianggap kalah. Dan kekalahan finalis itu, sama sekali tidak berkaitan dengan kapabilitas sang anak. Yang perlu diluruskan adalah persepsi kalah ini. Di dalam khazanah Islam, urusan menyeru (dakwah), tidak pernah ada istilah kalah atau tereliminasi. Kekalahan yang sesungguhnya justru saat anak-anak itu minder dan ngambek tidak mau lagi berdakwah.

Ketiga, koersi (pemaksaan) terhadap anak dalam hal materi. Dalam beberapa episode sangat terlihat bahwa anak-anak ini dipaksa untuk memaparkan sesuatu yang harusnya belum saatnya bagi usia mereka. Misalnya tentang korupsi, hubungan suami istri atau transmigrasi. Pengetahuan mereka jelas tidak memadai untuk menjelaskan dalam perspektif orang dewasa. Mereka mungkin bisa mengatakannya, tetapi tidak cukup mengerti maknanya. Artinya, kita telah menjejali anak-anak persoalan hidup khas dunia dewasa, yang belum sesuai dengan perkembangan jiwanya.

Bisa dipastikan, para peserta Pildacil harus menghafalkan materi terlebih dahulu. Bahkan, kata perkata didikte oleh pembimbing. Bila orang tua/pembimbing begitu dominan mendikte, mendoktrin, dan menciptakan stereotip, termasuk menentukan gaya, hafalan ucapan kalimat demi kalimat dari salam pembuka hingga salam penutup, maka potensi asli anak-anak yang serba kreatif lambat laun akan menjadi sirna. Ia akan terbiasa menerima perintah bukan pemberi perintah. Ia akan selalu menunggu kreasi dan bukan mencipta kreasi. Meski kelak ia tampil sebagai pemenang kontes maka sesungguhnya ia sedang mengalami kekalahan telak, yaitu kerapuhan jiwa.

Keempat, waktu mereka yang tersita di karantina. Harus diperhatikan juga tentang proses belajar peserta. Karantina yang dibuat oleh panitia menyebabkan mereka terasingkan dari dunia sekolah yang biasa. Di saat kawan-kawan yang lain di sekolahnya melaksanakan ujian, mereka tetap dipaksa untuk menghibur banyak orang melalui televisi. Sedikit banyak, akan berpengaruh terhadap pencapaian prestasi akademik mereka. Selain itu pola hubungan personal dengan teman-teman lamanya di sekolah juga akan berubah.

Sebagai penutup, empat kritik tersebut di atas muncul bukan sebagai sebuah suara anti dakwah. Hanya saja berusaha mendudukkan posisi dakwah pada tempatnya, sembari mengingatkan bahwa anak-anak tidak perlu dieksploitasi untuk memahamkan orang akan Islam. Dakwah di televisi memang sebuah keharusan di saat televisi menjadi kiblat bagi mayoritas masyarakat dalam mode, pemikiran dan budaya. Namun, dakwah yang sebenarnya adalah menegakkan keadilan. Di saat transformasi nilai Islam nampak dalam kesejahteraan rakyat.[]

1 comment:

  1. Sisilia WarassariMay 31, 2007 at 3:00 PM

    Pemilihan Da'i cili hanyalah sebuah pembelajaran antara media dan anak. Pemutaran paradigma terbalik, artinya disini seharusnya sudah bisa membentuk persepsi masyarakat luas tentang Da'i. Da'i tidak harus tumbuh dari komunitas dewasa. Komunitas anak juga menjadi sasaran empuk menumbuhkan tradisi ilmiah anak-anak. Tradisi cerdas pertumbuhan anak. Pembentukan pola pikir. Namun bagaimanakah keberhsilan media elektronik dalam membentuk Paradigma, Habit dan persepsi. Adalah Immaterial dan Material sebagai alat ukur. Kalau saja riset bisa membuktikan fakta bahwa keberhasilan media elektronik dalam delivery our perseption, itu adalah pembelajaran progressif, khususnya antara anak dan media. Seperti di Radio saya, akan ada kontes Da'i cilik. jelas! ini dalam rangka merebut pangsa pasar. Hanya saja tidak serta merta menggunakan sms.Tidak serta merta bisnis oriented, and market oriented. Karena yang diharapkan adalah membangun tradisi belajar dikomunitas anak. Sekali lagi semoga saja, hal ini tidak menyebabkab stress pada anak.

    ReplyDelete