Sunday, May 20, 2007

Bersama Habib Aboe Bakar al-Habsyi

Sebelumnya, saya sudah pernah mengikuti perjalanan seorang habib, yaitu Habib Nabiel Fuad al-Musawa. Kemarin, aku mendapat kesemptan lagi untuk membersamai habib yang lain, yang memiliki karakter khas: Habib Aboe Bakar al-Habsyi.

Hari Sabtu pagi, saya berangkat ke Kandangan, ibukota Hulu Sungai Selatan. Ini kali yang kedua saya ke Kandangan setelah Pelatihan Jurnalistik kemarin. Satu mobil itu adalah Pak Riyadi (Ketua DPW PKS Kalsel), Pak Riswandi (Wakil Ketua DPRD Kalsel) dan Habib Aboe Bakar al-Habsyi yang kebetulan juga anggota Komisi V (Perhubungan) DPR RI dari FPKS. Dan posisi saya sebagai pewarta yang harus meliput dan melaporkan kepada publik tentang kegiatan mereka itu.

Perjalanan lancar saja, mobil Innova yang disopiri Ketua DPW PKS itu berjalan mulus di jalanan trans Kalimantan. Kami berhenti di sebuah rumah makan di Banjarbaru, soto Banjar yang lezat dan "mak nyuuss" (menirukan pak Bondan, pakar tata boga yang biasa muncul di acara Wisata Kuliner itu) terasa di lidah. Setelah menikmati sensasi rasa di rumah makan itu, tiba-tiba ada permintaan. Sang habib diminta menutup dan melantik para peserta Latsar 3 Kepanduan DPW PKS Kalsel di bumi perkemahan Mandiangin, Kecamatan Karangintan Kabupaten Banjar.

Segera meluncur ke tengah Buper Mandiangin, 15 kilometer dari kota Banjarbaru. Sampai di sana, terdapat lima puluh anggota Pandu Keadilan berkumpul di sekitar masjid. Pakaian di tubuh mereka kotor dan belepotan lumpur, beberapa ada yang sobek, wajah para Pandu Keadilan itupun bergurat-gurat. Namun, sorot mata mereka menunjukkan semangat yang luar biasa. Tubuh kokoh dan atletis yang tercetak jelas menambah kesan gagah.

Latihan Dasar 3 bagi Kepanduan memang tidak sembarang orang bisa mengikuti. Hanya orang yang telah mengikuti jenjang Latsar 1 dan 2 yang bisa mengikutinya. Karena itu, biasanya hanya orang-orang yang akan berkarier di "dunia militer"-nya PKS inilah yang bisa ikut. Mereka yang tahan banting dan track record-nya di wilayah jasadiyah.

Habib Aboe memberi semangat bagi calon komandan Pandu itu. ”Antum semua adalah pembela agama Allah. Garis pertahanan terdepan bagi dien mulia ini adalah antum semua. Tugas kita semua hanyalah mempertahankan kalimat La ilaha illallah! Jika antum lemah, maka akan seperti apa jadinya umat ini?” tegas Habib yang langsung disambut takbir bergema.

Setelah menutup dan melantik, Habib menyalami satu persatu peserta Latsar yang 50 orang itu. Beberapa Pandu mendapat bonus pukulan dan tamparan yang nampaknya tidak terlalu keras dari Habib. "Selamat ya, tetap semangat dan istiqamah!" ucap Habib sambil tersenyum hangat kepada pandu yang beruntung itu. Dengan meringis dan sedikit bangga, sang pandu menjawab, "Siap!"

Perjalanan kami lanjutkan. Sampai di kota Kandangan pukul tiga sore. Langsung menuju kantor bupati. Dan bupati nampak sudah tidak sabar menyambut kedatangan Habib Aboe. Kulihat hanya dua orang berada di pendopo kabupaten itu, bupati Hulu Sungai Selatan, Dr. Muhammad Safi'i, M.Si dan Haji Anang, seorang tokoh muballigh muda yang terkenal di Hulu Sungai. Mereka menyalami dan mencium pipi sang Habib dengan mesra.

Perbincangan ramai lalu terjadi. Saya mendengarkan saja perbincangan politik itu. Muncul berbagai analisis yang bagi saya cukup menarik dalam forum diskusi tidak resmi itu. Mulai dari politik lokal kabupaten, perseteruan di tingkat provinsi hingga analisis resuffle oleh SBY beberapa waktu lalu.

Setelah menjamak sholat dzuhur di waktu ashar, kami beristirahat. Saya teringat, Sabtu pagi itu ada telepon dari Dr. Asmaji tentang LSM yang akan kami dirikan. Ada janji bertemu bersama empat dosen FISIP Unlam saat makan siang, dan sekarang saya ada di Kandangan, sementara itu pulsa habis. Saya putuskan keluar dari "hotel milik birokrat" itu. Berjalan ke terminal Kandangan, membeli pulsa. Setelah terisi, saya menghubungi Dr. Asmaji bahwa sepulang dari Kandangan saya akan langsung ke rumah di Kebun Bunga. Selain itu, teman-teman mahasiswa yang mengundang saya untuk berbicara di forum pelatihan juga harus dibatalkan. Demi profesi, akhi.

Malam harinya, saya mengikuti para tokoh itu untuk pertemuan internal partai. Lokasinya di Barabai, ibukota Hulu Sungai Tengah. Satu jam ke arah utara dari Kandangan. Sesampai di sana, para aktivis PKS sudah berkumpul. Ada sekitar 40 orang lelaki perempuan. Nampaknya merekalah para "muassis" partai di Hulu Sungai.

Habib Aboe memberi taujih sekaligus arahan kerja bagi para penggerak dakwah itu. "Kemenangan kita bukanlah kemenangan partai, tetapi kemenangan umat. Karena itu janganlah pernah menjadi sektarian. Seluruh muslim, apapun mazhab dan ormasnya, adalah umat yang harus kita perjuangkan nasibnya. Islam lahir sebagai ajaran yang rahmatan lil 'alamin," tegas Habib.

Selain itu, Habib menjelaskan bahwa kerja dakwah harus teratur. Memiliki perencanaan yang matang dan soliditas struktur yang kokoh. Selain itu, faktor media juga harus diperhatikan. Sehebat apapun kerja kita, jika tidak ada media maka "eksistensi politik" kita dianggap tidak ada. Efek media memang sangat besar bagi perkembangan dakwah. Karena itu, seluruh DPD juga harus segera memiliki akses internet. "Silakan buka website ana di www.aboebakar.info sebagai saran komunikasi kita," kata Habib berpromosi.

Gaya Habib memang khas. Jika Habib Nabiel kemarin memiliki keunggulan pada ketawadhuan, kesalehan dan ruhiyah yang kental dalam seluruh gerak dan tutur kata, maka Habib Aboe berbeda. Habib Aboe lebih bersemangat, mampu mentransfer hamasah dan yang kentara: lebih kocak dan komunikatif. Sering keluar joke-joke menyegarkan dari orasi yang menggelegar itu. Selain itu, tidak pernah lupa Habib menyebut satu-persatu nama yang hadir dalam ruangan itu sembari menanyakan kabar dan kondisi dakwahnya.

"Fakih, gimana kabarnya. Hebat antum, bisa keluar masuk DPRD..." sindir Habib disambut tawa hadiri. Fakih Jarjani, orang yang ditanya Habib adalah Wakil Ketua DPRD HSS yang diusulkan dipecat oleh gabungan fraksi non-PKS di DPRD HSS. Lain lagi ketika menyapa Ketua DPD PKS HSS, "Rosyadi, walaupun antum alumni Sudan, profesionalitas berpolitik juga harus dikuasai ya."

Pertemuan hangat itu berakhir pukul 23.30 WITA. Seluruh peserta pulang, yang berasal dari Banua Lima terpaksa menginap karena jaraknya memang cukup jauh. Terlebih para penggerak dakwah yang berasal dari pedalaman Borneo.[]