Wednesday, April 18, 2007

Tauhid Tiga Detik

Refleksi keimanan adalah terbentuknya sikap mental seorang muslim yang kokoh. Bukan hanya itu, selanjutnya seorang muslim mampu menampakkan keimanannya dalam seluruh sendi kehidupan, termasuk tata pergaulan dan sistem pemerintahan. Memiliki iman berarti memiliki keyakinan akan hal gaib yang mengatur manusia. Dzat Mahakuasa yang mengendalikan seluruh alam semesta.

Pada hakekatnya, manusia adalah makhluk yang seringkali terlupa dan silap dalam hidupnya. Al-Quran memperingatkan hal ini, “dan janganlah kamu lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa pada diri sendiri” (al-Hasyr: 19). Meskipun demikian, seluruh manusia pernah mengecap naluri keimanan. Raja-raja kafir yang diceritakan al-Quran—yang memusuhi para utusan Allah—juga pernah merasakan itu. Hanya saja, tauhid mereka tidak lebih dari tiga detik.

Fragmen pertama ditampakkan oleh Namrudz, raja yang memusuhi Ibrahim ‘alaihis salam. Kala itu, Ibrahim menghancurkan seluruh berhala yang memenuhi istana Namrudz. Ibrahim dikenal sebagai pemuda yang sering mencela patung-patung sesembahan kaumnya. Ibrahim selalu mengajak kaumnya untuk meninggalkan tradisi tersebut dan mengajak agar bersembah sujud hanya kepada Allah SWT. Tak ayal lagi, Namrudz-pun segera mencari Ibrahim dan bertanya siapa pelaku yang telah menghancurkan patung-patung sesembahan. Ibrahim menjawab, “Janganlah engkau tanyakan hal ini kepadaku. Tanyakan saja kepada patung yang besar itu!”.

Namrudz langsung menimpali, “Sungguh mustahil! Mana mungkin patung itu bisa berbicara?”. Dengan nada yang tegas, Ibrahim berkata, “Jika engkau tahu bahwa patung itu tidak bisa berbicara, mendengar, dan mengabulkan permintaan, maka mengapa engkau menganggapnya sebagai tuhan dan tetap menyembahnya?” Saat itulah Namrudz terhenyak dan tersadar, bahwa ada Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu. Namrudz sempat mengecap iman. Hanya saja, itu bertahan tiga detik. Detik berikutnya, ketamakan dan kerakusan menguasai hatinya kembali. Kafirlah Namrudz, bahkan hendak membakar Ibrahim.

Fragmen kedua adalah Fir’aun. Raja Ramses penguasa negeri Nil ini memusuhi Musa dan Harun dengan sangat kerasnya. Walaupun Musa pernah menjadi anak angkatnya, namun kabar ketauhidan itu yang dimusuhi Fir’aun. Kezalimannya juga luar biasa. “Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak-anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (al-Qashash: 4 ).

Sekafir-kafirnya Fir’aun, ternyata sempat juga hatinya beriman. “Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: ’Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (Yunus: 9). Hanya saja, keimanan itu bertahan sebentar saja. Semata-mata karena Allah sudah tidak bisa menerima keimanan di ujung tenggorokan. Saat nyawa tinggal di leher saja. Maka Fir’aun tetap mati dalam kedurhakaan, walaupun sempat mengucap syahadat keimanan.

Visi Iman Tauhid

Merenungi dua pelajaran dari al-Quran tersebut, maka keimanan adalah hal yang sangat mudah lepas jika penjagaan tidak konsisten. Berapa kali selama satu hari kaum muslimin melafadzkan takbir? Jika kita hitung untuk sholat wajib lima waktu saja, 94 kali mengucap takbir. Ucapan yang membesarkan Allah dan menginsyafi kelemahan manusia itu puluhan kali terucap, belum lagi jika kita melakukan shalat sunnah. Pertanyaannya, sudahkah makna takbir itu terinternalisasi dalam sanubari kita. Menancap dalam benak dan nurani?

Jika sudah terinternalisasi, maka tugas profetis sudah menanti. “Kalian adalah umat terbaik yang diturunkan di tengah manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110). Tugas profetis ini ditafsirkan oleh Kuntowijoyo sebagai humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Humanisasi adalah memanusiakan manusia. Saat ini sendang terjadi proses dehumanisasi karena masyarakat industri menjadikan manusia sebagai bagian dari masyarakat abstrak tanpa kemanusiaan. Liberasi adalah pembebasan bangsa dari kemungkaran, kekejaman, kemiskinan, keangkuhan teknologi, dan pemerasan. Dengan liberasi, kita ingin bersama membebaskan diri dari belenggu-belenggu yang kita bangun sendiri.

Sementara, transendensi adalah menambahkan dimensi transenden dalam seluruh sendi kehidupan. Inilah manifestasi ihsan sesungguhnya, saat kita merasa Allah selalu mengawasi manusia. Kita sudah banyak menyerah kepada arus hedonisme, materialisme, dan budaya yang dekaden. Kita percaya bahwa sesuatu harus dilakukan, yaitu membersihkan diri dengan mengingat kembali dimensi transendetal yang menjadi bagian sah dan fitrah kemanusiaan. Dimensi transendental ini adalah peneguhan tauhid—secara terus menerus, kontinyu dan mewaspadai penyusutan (yankuz).

Belajar dari Namrudz, nampak bahwa dalam keadaan ingkar sekalipun, ada detik-detik dimana kesadaran sebagai makhluk (yang diciptakan) muncul tiba-tiba. Yang harus dilakukan oleh seorang muslim adalah mengumpulkan sebanyak mungkin detik-detik kesadaran ini. Dan shalat adalah saat yang paling tepat menundukkan jiwa di bawah kuasa akbar Tuhan semesta alam.***

2 comments: