Monday, April 30, 2007

Rezeki, Iman, dan Kemiskinan

Suatu saat seorang kawan berujar, “sudah beribadah setiap hari, sholat lima waktu tekun dilaksanakan, bahkan dzikir harian tidak pernah terlewati, tetapi mengapa rezeki yang luas tidak kunjung turun?” Seorang kawan yang lain menimpali, “banyak orang-orang yang jarang ke masjid, melalaikan sholat dan bahkan tidak beriman kepada Allah, tetapi hidup mereka serba kecukupan, fasilitas hidup lengkap dan anak-anak mereka berbahagia.”

Ungkapan seperti itu, seringkali kita dengar. Lalu terfikirlah dalam benak saya tentang relevansi antara rezeki dan tingkat keimanan. Adakah relevansi dan korelasi positif—jika iman maka kaya—ataukah sama sekali tidak berhubungan? Sementara itu, bagaimana dengan faktor luar: sistem, struktur dan birokrasi negara, apakah mereka berperan penting?

Pertama yang ingin saya uraikan adalah mengenai kalimat “rezeki itu sudah ditetapkan Allah.” Selain rezeki, yang sudah ditetapkan oleh Allah adalah nyawa dan jodoh. Imam Ghazali pernah mengatakan, “Dia (Allah) yang menciptakan rezeki dan menciptakan yang mencari rezeki, serta Dia pula yang mengantarnya kepada mereka serta menciptakan sebab-sebab sehingga mereka dapat menikmatinya.”

Keberadaan rezeki ini bisa dianalogikan dengan sebuah tandon air yang memiliki banyak keran. Tandon itulah jumlah rezeki yang sudah pasti menjadi milik kita, sementara keran yang banyak jumlahnya adalah mata pencaharian kita. Sekiranya kita hanya mau dan mampu membuka satu keran, maka sejumlah itulah rezeki kita setiap hari. Jika kita mau dan mampu membuka sepuluh keran, maka perolehan kita akan semakin banyak.

Batasan rezeki itu adalah umur. Jumlah usia kita sudah ditentukan oleh Allah. Jadi, variabel rezeki yang dikaruniakan oleh Allah selain jumlah nominal juga faktor usia. Variabel usia ini selamanya menjadi rahasia Ilahi, manusia sama sekali tidak berkuasa—menebak sekalipun. Sekiranya dalam waktu yang sempit, nominal rezeki yang kita dapat banyak, maka anggaplah bahwa seluruh keran jalan rezeki sudah dibuka seluruhnya. Sehingga, habisnya “persediaan rezeki” seiring dengan susutnya jatah usia kita.

Kedua, bahwa sifat dasar manusia itu tidak pernah puas. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh al-Quran, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (al-Ma’arij: 19). Kecenderungan manusia memang sering merasa tidak cukup. Sekiranya ada harta, dia juga sering kikir. Dan jika toh sudah terpenuhi, selalu saja merasa ada yang dirasa kurang.

Seringkali kecukupan materi membuat seorang manusia tidak tenang. Di sinilah faktor kepuasan seeorang itu berbeda dengan yang lain. Berpendapatan bulanan, memiliki rumah kecil dan sebuah motor untuk aktivitas, misalnya, bagi seseorang sudah dirasa cukup. Tapi bagi orang lain, batasan cukup adalah ketika sudah memiliki mobil mewah, rumah megah dan berhalaman luas.

Ketiga, ibadah yang rajin memang belum tentu akan membuat jadi kaya seseorang, tetapi ibadah bisa menjadi spirit bagi pencarian rezeki. Seorang ayah yang bekerja untuk istri dan anak-anaknya akan semakin terpacu jika ibadah menjadi landasan aktivitas pekerjaannya. Pengabdian hanya kepada Allah, niat untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan keinginan berhasil di masa depan, adalah spirit yang tidak akan pernah habis.

Ustadz Yusuf Mansur pernah mengungkapkan bahwa barangsiapa rutin melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 12 rakaat setiap hari maka dia akan kaya. Tentunya memahami anjuran ini bukan secara harfiah, bahwa jika sudah melaksanakan sholat tiba-tiba ada uang di depan mata. Maksud anjuran sholat di sini adalah keimanan kepada Allah merupakan sumber spirit abadi. Sholat yang khusyuk: penuh tunduk, ikhlas memohon, dan sadar akan kebesaran Tuhan, menjadi sugesti dan pendorong yang luar biasa besar bagi aktivitas harian seorang muslim.

Pendapatan rezeki yang diperoleh seseorang ternyata bukan hanya sebab internal. Ada faktor luar yang seringkali disebut peluang dan kesempatan. Dua hal ini tercipta tentu saja bukan sebuah ketiba-tibaan sebagaimana ilmu sihir. Peluang dan kesempatan selain harus diciptakan sendiri, harus melibatkan “kekuasaan manusiawi” yang berupa negara, korporasi swasta maupun asosiasi masyarakat. Di sinilah peran negara.

Tajuk BPost tanggal 15 Maret 2007 menuliskan tentang Kemiskinan Terstruktur. Diungkapkan di sana bahwa kemelaratan di Indonesia sudah terstruktur. Ada mekanisme dari banyak kebijakan yang menyebabkan munculnya kemiskinan itu, sehingga penduduk miskin di Indonesia seperti buruh, tani atau nelayan sulit untuk bangkit karena memang tidak berdaya. Sampai di sini pertanyaan yang muncul adalah: jalan rezeki itu selain kuasa Tuhan, apakah berarti juga peran negara dan sistem birokrasi yang kuat?

Jawabannya adalah kedua-duanya. Memandang sebuah persoalan tentunya tidak hanya dari satu sisi. Jika kita hanya beranggapan bahwa “membuka keran rezeki” itu kuasa Tuhan dan semata-mata faktor takdir, maka—menurut Jalaludin Rakhmat—kita termasuk pelaku blaming the victims, orang yang menyalahkan korban.

Cara berfikir ini memang mengaitkan tiga hal: rezeki, keimanan dan kemiskinan struktural. Penegasannya adalah bahwa rezeki dari Allah sudah pasti turun, dan Dia tidak akan pernah menelantarkan hamba-Nya. Yang kedua bahwa keimanan tidak selalu memiliki korelasi positif dengan jumlah nominal yang diterima—hanya saja spirit keimanan sangat kuat mensugesti bagi produktivitas seseorang.

Terakhir, peran negara dalam membuka peluang usaha dan rezeki ini sangat besar. Artinya, usaha yang keras tanpa diikuti dengan pertanggungjawaban para pemimpin bangsa untuk mengentaskan kemiskinan, hanya akan membuat solusi parsial belaka. Semoga keadilan sosial yang berketuhanan segera terwujud di negeri ini.[]

No comments:

Post a Comment