Sunday, April 1, 2007

Kue Iklan Memang Nyaman

Malam ini, aku menemukan di meja salah satu teman editor, sebuah majalah yang luks tampilannya. Namanya majalah Dewi, salah satu dari grup Femina. Selain Dewi, Femina-Group menaungi Femina sendiri, Gadis (untuk remaja), Ayahbunda (pasangan muda), Fit (cantik, sehat, bugar), CitaCinta (wanita muda masa kini), Pesona (inspiration for u'r life), Men'sHealth (pria aktif dan modern), Seventeen (buat yang memutuskan jadi cantik), ReaderDigest (the little books thats a big read), Estetica (estetika Indonesia), dan Parenting (untuk jadi orang tua). Hebat bukan?

Kembali ke Dewi, secara fisik memang majalah ini sangat mewah. Warnanya menyolok mata, gambar wanita cantik menghiasi sampul depannya. Sayang aku tidak terlalu memperhatikan namanya, sepertinya artis dari negeri seberang. Halaman dalam juga demikian, penuh dengan foto artis perempuan yang tidak malu dengan auratnya. Bahkan dieksploitasi untuk sebuah produk. Bahan kertasnya mengkilap, bahkan untuk bagian tengah memakai hardpaper yang mengkilap dan fullcolor. Ukurannya lebar, dua kali majalah Ummi.

Dari segi isi, bisa dilihat dari namanya, tentu membicarakan tentang perempuan dan segala hal yang berkaitan dengan dunia kaum Hawa. Karena yang kubaca edisi 1 April 2007, maka preambule majalah itupun menyerukan emansipasi [atau lebih tepatnya: liberalisasi perempuan], mengikuti jejak Kartini. Tulisan yang dibikin oleh pimrednya itu mengompori pembaca untuk merenungi pelanggaran hak-hak perempuan yang dilanggar. Pasar yang dibidik Dewi, tentunya untuk kalangan elite. Kalangan menengahpun rasanya tidak banyak yang akan membelinya.

Dalam usianya yang ketiga puluh, Femina menjadi sangat besar dan menjelma raksasa media dengan berbagai tema serta segmen pasar yang khas. Tentunya menarik jika mengkaji, bagaimana Femina menciptakan pasar? Membentuk pembaca fanatik dan memasarkan produknya? Serta yang terakhir, bagaimana iklan diperoleh?

Harga majalah Dewi, hanya 33.000 rupiah. Sangat murah untuk majalah se-eksklusif itu. Rasa penasaranku muncul, bagaimana mungkin? Iseng-iseng, aku menghitung jumlah halaman iklan. Dari 188 halaman majalah Dewi, 83 halaman dipergunakan untuk iklan. Produk yang dipasang disana seperti tas, sepatu, kacamata, kosmetik, parfum, hotel, HP, kalung, gelang, butik, dan seluruh asesoris kecantikan wanita. Ada juga iklan kesehatan seperti spa dan layanan pijat refleksi.

Kita ambil patokan harga iklan satu halaman di majalah Tempo sebelum pembredelan oleh Orba (tahun 1994-an) yang besarnya 15.000 dollar, maka sama dengan 30 juta. Jika kita hitung harga satu halaman 30 juta, maka total pendapatan dari iklan Dewi sudah sekitar 2,5 milyar. Dan aku yakin, sekarang sudah lebih mahal dari 30 juta. Luar biasa bukan? Maka, kue iklan inilah yang mencukupi untuk menekan harga jual hingga 33.000 saja. Padahal jika melihat mutu cetak, aku yakin satu eksemplar lebih dari 50.000.

Itu ternyata belum cukup. Dewi memiliki suplemen, yang terbaru bicara tentang sepatu yang modis. Dan 20 halaman itu seluruhnya iklan. Genap 100 halaman dihitung sebagai promosi berbiaya. Bisa dibayangkan bukan?

Sempat juga aku hitung majalah Tempo edisi 26 Maret-1 April, jumlah halaman iklan ada 50 dari 140 halamannya. Jika masih memakai standar harga lama, maka keuntungan dari iklan hanya 1,5 milyar untuk Tempo. Tapi itu sudah lumayan besar. Misal lain adalah Kompas, katanya tanpa pembeli harus membayar pun, Kompas sudah untung dari iklan. Andaikan media Islam bisa seperti itu.

Baiklah kawan, ada yang lebih menarik dari bisnis media?[]

3 comments:

  1. wah, rajin sekali mas mengamati fenomena dunia periklanan. Bagus lah, itung2 fiqhul waqi =)

    ReplyDelete
  2. bisnis media itu emang dahsyat min..

    mending jadi broker media ketimbang jadi broker gerakan. lebih menjamin!

    ReplyDelete
  3. Betul Nik, kamu bisa memfasilitasi gak? Gerakan-gerakan sudah pada pragmatis. Gak bisa dibrokerin lagi. Paling-paling ditutup pake laptop udah pada diem.

    ReplyDelete