Monday, April 30, 2007

Khilafah atas Bumi

Ketika Adam diturunkan ke muka bumi, sesungguhnya membawa misi kepemimpinan yang berat. Setelah gunung, langit dan samudera tidak mampu mengembannya. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’ (al-Baqarah: 30).

Dalam ayat tersebut diceritakan bahwa ternyata misi kepemimpinan Adam awalnya mendapatkan reaksi berupa ungkapan keraguan dari malaikat. Saat itu malaikat berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu.” Keraguan malaikat ini mendapat jawaban dari Allah, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Keraguan malaikat dilatarbelakangi oleh keterbatasan pengetahuannya tentang kemampuan atau kualitas-kualitas yang dimiliki oleh manusia. Selain juga kekhawatiran bahwa Adam akan membuat kerusakan pada bumi. Baru setelah Adam menjelaskan “nama-nama” kepada malaikat sebagaimana diperintahkan Allah, malaikat menjadi sadar dan akhirnya menerima sepenuhnya kepemimpinan Adam. Kemampuan Adam untuk menjelaskan tentang nama-nama ini menunjukkan kualitas potensi jiwa dan pengetahuan yang dimiliki oleh seorang khalifah yang mewujud secara nyata ke dalam dirinya dalam rangka mengemban tugas pemeliharaan bumi.

Reaksi penolakan kedua ditampakkan oleh syaitan, “Allah berfirman: ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ Menjawab iblis, “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (al-A’raf: 12). Berbeda dengan malaikat, iblis menolak karena kesombongan dan merasa bahwa dirinya lebih memiliki kualitas dan kemampuan dalam mengemban amanah tersebut.

Selain itu, itu iblis juga menyembunyikan kedengkiannya kepada Adam, karena Allah meletakkan amanah kekhalifahan kepada Adam dan bukan kepada dirinya, padahal selama ini ia telah menunjukkan ketekunannya bertasbih dan memuji kepada Allah. Iblis akhirnya terus meneguhkan sikap penolakannya, tidak mau bertobat dan bahkan memproklamirkan kebulatan tekadnya untuk menyesatkan manusia.

Fragmen kedua tentang kepemimpinan, kita jumpai dalam penunjukan Daud sebagai pemimpin dan pemelihara bumi. “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (Shaad: 26).

Sekali lagi, al-Quran menggambarkan bahwa Daud diutus untuk menjadi pemimpin di muka bumi. Dimensinya adalah keadilan dalam pengelolaan alam semesta, baik ketika memutuskan perkara perseorangan maupun urusan kolektif.

Pemeliharaan Bumi

Dalam buku Membumikan al-Quran, Prof. Quraisy Shihab menguraikan lebih jauh tentang kata al-ardh (bumi atau alam) yang ternyata menjadi tanggungjawab pemeliharaan pertama dan utama dari seorang pemimpin. Kekhalifahan mempunyai tiga unsur yang saling kait-berkait. Kemudian, ditambahkannya unsur keempat yang berada di luar, namun amat menentukan arti kekhalifahan dalam pandangan al-Quran.

Ketiga unsur pertama tersebut, pertama adalah manusia yang dalam hal ini dinamai khalifah. Kedua adalah alam raya, yang ditunjuk oleh ayat al-Baqarah sebagai ardh; dan ketiga yaitu hubungan antara manusia dengan alam dan segala isinya, termasuk dengan manusia. Hubungan ini, walaupun tidak disebutkan secara tersurat, telah tersirat karena penunjukan sebagai khalifah tidak akan ada artinya jika tidak disertai dengan penugasan atau istikhlaf.

Itulah ketiga unsur yang saling kait-berkait, sedangkan unsur keempat yang berada di luar adalah yang digambarkan oleh ayat tersebut dengan kata inni jail/inna ja’alnaka khalifat yaitu yang memberi penugasan, yakni Allah SWT. Dialah yang memberi penugasan itu dan dengan demikian yang ditugasi harus memperhatikan kehendak yang menugasinya.

Dapat difahami, tugas utama dari seorang pemimpin di sini adalah memelihara alam semesta. Terutama dalam bentuk fisiknya: potensi, kekayaan, dan seluruh sumber daya yang terkandung di perut bumi. Manusia seringkali berbuat aniaya terhadap bumi yang menghidupinya, maka tugas pemimpin—dalam perspektif penugasan Allah—adalah memberi peringatan terhadap masyarakatnya. Bagaimana agar semakin erat antara hubungan manusia dengan alam.

Semakin kokoh hubungan manusia dengan alam raya dan semakin dalam pengenalannya terhadapnya, akan semakin banyak yang dapat diperolehnya melalui alam itu. Namun, bila hubungannya eksploitatif, pastilah hasil lain yang dicapai hanyalah penderitaan dan penindasan manusia atas manusia. “Dan bahwasanya, jika mereka tetap berjalan lurus di jalan itu [petunjuk-petunjuk Ilahi], niscaya pasti Kami akan memberi mereka air segar [rezeki yang melimpah]” (Jiin: 16).

Terakhir, kalimat al-Quran menggambarkan tentang kerusakan yang di buat di muka oleh kaum Yahudi. Jika ini dilakukan azab Tuhan akan segera turun. “Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam kitab itu: ‘Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” (al-Isra’: 4).

Kesombongan Yahudi berbentuk pada kerakusan dan ketamakan terhadap duniawi. Mereka menjarah alam dan manusia tanpa memperdulikan kemanusiaan lagi. Masjidil Aqsha di Palestina pun mereka rebut, hendak dijadikan sebagai kuil peribadatan. Daftar kejahatan Yahudi ini lalu membawanya menjadi bangsa yang dimusuhi oleh banyak orang di muka bumi. Tidak cukup itu, azab Tuhan juga sudah menunggu bagi mereka di akhirat kelak.

Merawat alam semesta, memaknainya sebagai bagian tidak terpisahkan dari misi kepemimpinan manusia adalah langkah yang dituntunkan agama. Jika kita mampu melestarikan bumi dan segala isinya, maka pengabdian dan tanggungjawab kepemimpinan kita di mata Allah, tertunaikan sempurna.[]

No comments:

Post a Comment