Monday, April 23, 2007

Digugat Wartawan

Kamis malam (19/04) pukul 22.00 kami meninggalkan Banjarmasin. Menaiki sebuah mobil yang disediakan panitia. Satu mobil denganku adalah Arifin Noor, wartawan foto harian Kalimantan Post yang juga dosen komunikasi Universitas Islam Kalimantan (Uniska) dan Iman salah seorang pegawai Qalam Borneo—lembaga training dan penerbit buku. Perjalanan menuju kabupaten Hulu Sungai Selatan, sekitar 4 jam perjalanan dari kota Banjarmasin.

Perjalanan melalui Trans-Kalimantan. Melewati kota Banjarbaru jalan masih rata, saat sampai di jembatan Martapura jalan bopeng mulai banyak. Inilah yang menyebabkan minggu-minggu terakhir banyak protes. Baik di media massa, demonstrasi mahasiswa—dipelopori BEM Unlam dan BEM IAIN Antasari—hingga pemblokiran jalan oleh warga sendiri. Truk-truk pengangkut batu bara yang melewati jalan negara menyebabkan kerusakan fatal bagi jalan. Kondisi jalan semakin parah saat mobil menginjak wilayah Binuang dan Rantau, Kabupaten Tapin.

Mata susah terpejam walaupun MP4 player sudah memutar lagu-lagu shalawat santri Langitan. Goncangan terasa sekali walaupun mobil yang kami naiki cukup bagus. Akhirnya hanya desah saja keluar dari mulut, ”kapan pemerintah menghentikan proses perusakan jalan oleh industri kapitalis batubara ini?”

Akhirnya, tepat pukul 01.00 WITA, kami sampai di kota Kandangan, ibukota kabupaten Hulu Sungai Selatan. Kota ini kecil tapi rapi, ingatanku melayang ke kota Purwodadi, daerah asalku. Agak sepi namun nyaman. Yang khas dari kota Kandangan ini adalah makanan dodol dan ketupat. Ketupatnya banyak santan kental dan rasanya agak manis. Benar kata temanku, orang Banjar ini, kalau makan tidak bisa lepas dari kecap.

Masuk di kamar hotel, aku segera rebahan. Perjalanan 4 jam yang melelahkan. Besok siang baru jatahku memberi materi. Artinya masih ada jatah waktu yang sangat banyak sebelum aku bicara di forum itu.

Judul sebenarnya dari acara ini adalah Pelatihan SDM Bidang Informasi dan Komunikasi, yang diadakan oleh bagian Humas Setda Kabupaten HSS. Pesertanya seluruh humas yang ada di berbagai dinas di wilayah Kabupaten HSS. Seluruhnya PNS, ada yang berlatar belakang pertanian, kesehatan, kehutanan dan beberapa jurnalis radio daerah (RSPD).

Pelatihan kehumasan itu diadakan di Hotel Bangkau, sebuah hotel dengan kelas melati III. Bisa dibayangkan seperti apa kan? Mirip dengan kos-kosan di Jogja dulu, hanya saja ada fasilitas AC—yang tua dan berbunyi nyaring—serta TV yang hanya bisa jelas menangkap Trans7 saja. Selebihnya adalah bau kurang sedap yang cukup menggangguku.

Acara berlangsung lima hari, semenjak Senin hingga Jumat. Beberapa pemateri dihadirkan. Hampir semua fasilitator hanya lokal Kalsel, termasuk diriku. Satu-satunya yang level nasional adalah Rizky Ridyasmara, jurnalis investigasi majalah Sabili. Bang Kiki—panggilan akrabnya—memberi materi tentang investigasi. Dia bercerita banyak pengalaman liputannya mulai Aceh, Poso hingga Maluku. Berbagai daerah konflik sudah dijelajahinya, sempat juga ditodong senjata oleh tentara. Atau menyembunyikan diri di bawah truk untuk menghindari pengejaran serdadu sipil. Cucu Hasan Raid si Muslim Komunis ini memang luar biasa. Kesempatan ini tidak disia-siakan teman-teman KAMMI. Selepas mengisi di Kandangan, bang Kiki ditahan oleh KAMDA Kalsel untuk bercerita tentang jurnalistik dan terutama bukunya yang monumental itu: Ksatria Templar.

Pagi hari Jumat itu, daripada bengong di kamar, aku iseng berjalan keliling kota Kandangan. Menikmati udara pagi, menelusuri pasar di tengah kota yang sangat ramai. Aneka jualan yang unik kujumpai di sana. Ada beberapa jenis tumbuhan, bunga yang aku tidak tahu namanya. Seperti kaktus yang bersusun indah.

Di sebuah kios depan terminal kota, aku sempat membeli koran Banjarmasin Post, ternyata tulisan yang kukirim kemarin dimuat hari itu. Judulnya ”Tauhid Tiga Detik”. Kebetulan sekali pikirku, sekalian bisa menjadi contoh kongkret tulisan yang layak muat itu seperti apa.

Selepas sholat Jumat, aku memberi materi. Secara singkat saja tentang cara menulis opini. Selebih adalah motivasi menulis bagi para PNS itu, karena menurutku justru motivasi itulah yang paling mendasar. Peserta yang usianya beragam itu cukup antusias, dibuktikan dengan bertanyaan yang bertubi. Ada yang mengungkapkan tentang kebuntuan berfikir saat menulis, ada yang menggugat keberanian tafsir ayat-ayat suci, ada juga yang pamer sudah menghasilkan 36 tulisan—yang seluruhnya adalah surat cinta. Seluruh peserta tergelak dengan joke Pak Aji, penyiar di RSPD Gema Amandit itu.

Dua jam berdiskusi lalu ditutup. Selepas acara ada yang masih meneruskan beberapa diskusinya denganku. Semuanya termotivasi untuk menulis, ada beberapa yang berkomitmen untuk mengirimi aku imel tulisan mereka. Lalu acara penutupan oleh Asisten II Bupati HSS. Selesai, foto bersama lalu peserta pulang.

Ternyata, ada sebuah masalah di luar acara. Para koresponden koran lokal, yaitu Radar Banjarmasin (Mucay) dan Banjarmasin Post (Arya), menggugat acara training kehumasan itu. Mereka mengatakan bahwa training kehumasan itu ilegal, karena para pemateri tidak memiliki sertifikat trainer jurnalistik atau kehumasan. Mereka mengancam tidak akan memberitakan acara itu, dan betul, besok paginya aku tidak melihat satu barispun di media lokal tentang acara yang sangat erat kaitannya dengan dunia media itu.

Aku berargumentasi bahwa, kemampuan menulis tidak perlu dibuktikan dengan sertifikat atau ijazah. Tapi cukup dengan uji publik, artinya kemampuannya nyata sudah ada bukti di media massa. Jika tetap harus bersertifikat, lalu siapa yang berhak memberi sertifikat itu? Apa PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) itu? Wah, bisa-bisa kawan-kawan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) dan PWI Reformasi menggugat balik pula nanti...!

Ada yang punya pendapat?[]

No comments:

Post a Comment