Sunday, March 4, 2007

Takziyah di Sarang Preman

Sukariyanto bin Kidjan, aku baca tulisan di selembar kertas yang diletakkan di atas jasad jenazah itu. Diselimuti batik warna hitam kusam tubuh kaku itu membujur miring ke arah kiblat. Ustadzku beranjak mendekat, membuka penutup wajah dan mencium kening sang jenazah dengan takdzim. Wajah dengan jenggot tebal itu tersenyum tenang. Kami mengirimkan doa keselamatan dan kedamaian untuknya di alam barzakh.

Malam Sabtu kemarin, selepas Isya bersama kawan-kawan halaqah, aku pergi ke rumah salah seorang saudara yang meninggal dunia. Almarhum adalah aktivis Partai Keadilan Sejahtera di tingkat ranting. Kegiatan terakhir adalah hari minggu kemarin saat ada pengobatan gratis. Menurut cerita para saudara yang lain, beliau masih bercanda dan makan bersama dalam satu lingkaran. Tidak ada tanda-tanda akan mendapatkan sakit. Banyak yang tidak percaya saat dikabarkan akh Sugi--demikian beliau biasa dipanggil--telah meninggal.

Pagi itu beliau berangkat kerja ke Pal 6 (daerah ujung timur kota Banjarmasin). Tiba-toba merasakan pening dan mual. Sesampai di rumah, langsung terjatuh dan pingsan. Dada dan bibirnya mulai membiru dan detak nadi menghilang. Setelah dibawa ke rumah sakit, beliau dinyatakan telah meninggal. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Malam Sabtu itu, banyak orang berkumpul di depan rumah almarhum yang terletak di sebuah lorong kampung sempit. Praktis seluruh lorong itu tertutup oleh jamaah ta'ziyyin. Ada yang membaca Yasin (sebagaimana yang aku lakukan), ada yang berdoa di samping jenazah, banyak pula yang berada di luar rumah sembari ngobrol dan merokok. Menanti penguburan yang akan dilaksanakan esok pagi.

Rumah almarhum terletak di sebuah daerah yang terkenal sebagai Bronx-nya Banjarmasin. Bronx adalah daerah preman di Washington, demikian juga tempat ini. Daerah itu bernama Kelurahan Kelayan, termasuk wilayah administratif kecamatan Banjarmasin Selatan. Menurut penuturan ustadz, dahulu jika mendengar nama Kelayan orang-orang sudah merinding dan ngeri. Jika terjadi tabrakan motor, dapat dipastikan penabrak akan sama nasibnya dengan motornya. Berita kriminal di koran lokal Banjarmasin selalu mendapatkan asupan berita dari Kelayan ini, entah pembunuhan, pencurian, pemerkosaan dan sebagainya.

Afiliasi politik pada tahun 1999, hampir total berwarna merah. Berpihak pada PDI Perjuangan. Partai wong cilik itu menjadi pilihan masyarakat Kelayan yang kebanyakan terdiri dari pemuda pengangguran, para perantau, transmigran yang keluar dari lahan dan secara umum ekonomi rendah. Selain itu, banyak anak putus sekolah yang menjadi bibit bagi tersebarnya kriminalitas. Pendidikan masih minim.

Namun ada yang berubah semenjak tahun 2003. Pada saat para ustadz mulai masuk ke dalam kampung preman itu. Tahlilan, yasinan dan shalawatan digalakkan. Pengajian bulanan menjadi menu rutin. Ta'lim ibu-ibu juga diselenggarakan. Bukan hanya itu, langkah konvensional diikuti dengan metode pemberdayaan ekonomi dan bantuan riil. Akhirnya--sekedar sebagai sebuah representasi--tahun 2004, Partai Keadilan Sejahtera mendapatkan kemenangan mutlak dan mendudukkan dua orang anggota legislatif kota dari sarang preman ini.

Kini, menjadi tugas penting untuk mempertahankan dakwah di sini. Kita tahu, manusia memang butuh tuntunan agama dan pencerahan spiritual. Namun jika perut belum terisi, pekerjaan belum dimiliki dan anak-anak menangis minta jajan, akankah dakwah mampu menembus mereka. Pengajian harus selalu diikuti pemberdayaan, itu kuncinya.[]


No comments:

Post a Comment