Thursday, March 8, 2007

Perjalanan Tujuh Kota

Dibandingkan Jawa, Kalimantan memang raksasa. Perjalananku dua hari ini membuktikan. Membelah Kalimantan, menjelajah tujuh kota. Kebetulan ada kawan kuliah yang mengadakan resepsi pernikahan. Kawan satu organisasi dan sparing partner pemikiran. Bagi anda yang pernah mengenal, namanya adalah Mardhatina Diniy.

Diniy menikah dengan seorang ikhwan yang berasal dari sebuah kota bernama Paringin, kabupaten Balangan. Sang mempelai lelaki bernama M. Zaki Mubarak. Mereka berdua sesama alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tepatnya jurusan Tafsir Hadits fakultas Ushuludin. Sebetulnya sudah mengadakan akad nikah pada November 2005, satu setengah tahun yang lalu. Karena adat Banjar yang agak rumit dan adanya urusan keluarga, akhirnya walimah atau resepsi baru bisa diadakan kemarin. Berikut cerita perjalananku.

Berangkat dari Banjarmasin hari Kamis jam 15.00. Berjalan pelan menggunakan motor bersama seorang sahabat dekat semenjak masih di Jogja dulu: M. Arifiani. Melewati kota Banjarbaru lalu kota Martapura. Melihat para santri di Ponpes Darussalam. Pesantren tua yang penuh hilir mudik para santri, lelaki memakai sarung dan berpeci haji, sementara santri putri berjubah atau tapih sarung dengan jilbab terulur di dada. Pantaslah jika kota ini memiliki slogan Serambi Makkah.

Religiusitas Martapura sudah pernah aku ceritakan sebelumnya dalam tulisan Kota Seribu Huruf Hijaiyah. Kemarin aku belum melewati komplek pesantren Darussalam Martapura, sekarang sempat melihat dari gerbang yang terletak persis di sebulah jembatan yang melintas di atas sungai Martapura. Ada plang berbunyi Ikatan Santri Darussalam dengan dasar hijau tua bertulis putih. Catnya sudah banyak mengelupas. Plang itu tertempel di sebuah dinding rumah kecil. Nampaknya semacam sekretariat OSIS-nya pesantren.

Yang menyejukkan memang, saat memandang semuanya putih. Jubah, sarung, kerudung dan kopiah. Seragam dan harmoni. Konstruksi budaya Islam nampak di sini. Tapi, motorku harus segera melaju. Masih empat jam perjalanan lagi.

Sepanjang jalan truk pengangkut batubara berjalan pelan. Berat, seolah-olah terbebani dengan batuan berusia ratusan tahun itu. Jalan bergelombang dan beberapa bagian rusak berat. Berlobang dalam dan berpotensi menjatuhkan motor jika kejeglong didalamnya. Truk pengangkut itu membikin karnaval. Jalannya memang sempit. Jika anda pernah ke Purwodadi melewati Solo, lebar dan kondisi jalannya sama dengan Martapura - Rantau. Hanya cukup untuk satu badan mobil dan rusak lagi. Akhirnya, jika ada yang kempes ban, kecelakaan kecil atau sesuatu yang menyebabkan mobil macet, praktis mobil belakangnya tidak bisa berjalan. Macetlah hingga lima kilometer.

Batubara adalah komoditas utama Kalimantan. Digali dari pertambangan di pedalaman, dibawa menuju pelabuhan Trisakti Banjarmasin maupun Batulicin di Tanah Bumbu. Lalu diedarkan hingga pulau Jawa, Sumatra dan luar negeri. Setahuku, batubara ini tidak terbarukan. Kalaupun bisa, membutuhkan jutaan tahun lagi. Jika penambangan serakah, maka sumber energi alternatif ini akan hilang juga.

Balangan, Kabupaten Baru

Dari Martapura sampai di kota Binuang pukul 16.30 WITA. Kami putuskan sholat Ashar dahulu, sembari meluruskan otot punggung yang pegal sekali. Masjid Binuang sangat luas. Ruang tengahnya memakai empat cagak (tiang) yang diukir bentuk daun-daunan. Dalam Islam memang diharamkan gambar dan bentuk seni yang melambangkan manusia atau makhluk hidup lainnya, sehingga kaligrafi dan seni lainnya selalu berpijak pada flora. Tiang di masjid Binuang ada yang di tengah, sehingga total lima buah tiang. Kubahnya besar berwarna silver.

Selesai istirahat, bergegas memacu motor. Melewati kota Rantau, ibukota kabupaten Tapin. Kota ini agak kotor, becek dan rusak jalannya. Lalu sampai di kota Kandangan, ibukota kabupaten Hulu Sungai Selatan. Pertama kali memasuki gerbang kota sudah terlihat kerapiannya. Memang benar, Kandangan kota paling asri yang pernah kulihat di Kalimantan setelah Balikpapan. Taman di pinggir jalan nampak berhias bunga. Pagar yang rapi, juga jalannya lurus dan rata. Di beberapa bagian, kanan kiri jalan masih banyak sawah menghijau. Luar biasa. arif sampai berdiri dan berteriak girang. Aku juga, kami memang sudah lama tidak rihlah (tamasya).

Keluar dari kota Kandangan jalan mulai jelek lagi. Satu jam kemudian, menjelang maghrib kami sampai di kota Barabai, ibukota Hulu Sungai Tengah. Kota ini sejarahnya tua. Maksudku secara historis keagamaan cukup mengakar. Terdapat sebuah PTAI yaitu STAI al-Washliyah. Keadaan kota barabai agak ramai. Satu hal yang aku cermati, lampu merah tidak ada yang berjalan normal. Semuanya hanya berwarna kuning berkedip. Hijau dan merah sama sekali tidak menyala. Ternyata kondisi yang sama aku jumpai di Kandangan dan Paringin. Aneh memang. Mungkin lampu merah itu tidak terlalu berguna di lalu lintas yang tidak terlalu ramai.

Pas adzan maghrib berkumandang, kami putuskan istirahat. Perut betul-betul lapar. Karena sulit mendapatkan warung makan di waktu sore, maka mie ayam jadi sasaran. Sepertinya seluruh aktivitas jual beli selesai menjelang surup (maghrib). Kami makan lahap, rasanya lezat. Kebetulan penjualnya orang asli Jawa Timur, logat Banjarnya aneh. Akhirnya aku pakai boso Jowo juga. Oh ya, aku lupa bayar telur satu tusuk. Tergesa sih.

Perjalanan kami lanjutkan. Ternyata jalan selepas Barabai makin menanjak. Lereng Meratus mulai terdaki. Jalannya juga semakin sempit. Kanan kiri masih banyak pohon dan semak, selayaknya hutan Kalimantan. Aku baru tahu, ternyata kabupaten Balangan baru berusia tiga tahun. Pemekaran dari kabupaten Hulu Sungai Utara (Amuntai). Ibukotanya adalah Paringin. Aku lihat seluruh bangunan pemerintah: kantor bupati, DPRD, beberapa dinas, berada di pinggiran kota. Masih dikelilingi semak, banyak juga rambutan dan cempedak (atau tiwadak, kata urang Banjar).

Sampailah kami di Paringin tepat pukul 20.00 WITA. Kelelahan kami agak terkurangi dengan sambutan hangat Diniy dan Zaki. Mereka menunggu di alun-alun kota Paringin, tepat di samping tugu kota. Setelah sampai di rumah, jamuan hangat juga segera keluar.

Ritual Pernikahan Banjar

Pertama kali aku melihat urang Banjar menikah pada walimahan Arifiani dengan Ayu Yuniati, yang menikah tanggal 4 (di Banjarbaru-mempelai putri) dan tanggal 11 (di Banjarmasin-rumah Arif) Januari 2007. Dahulu, Arif harus batimung dulu. Batimung adalah sebuah ritual yang harus dilakukan kedua mempelai sebelum menikah. Caranya, seluruh tubuh telanjang, lalu dibungkus dengan karpet atau selimut tebal. Lalu bumbu dan wewangian direbus, uapnya dimasukkan ke dalam selimut yang melilit tubuh itu. Mirip dengan spa (mandi uap). Cara konvensional masih menggunakan tungku. Calon mempelai harus menduduki tungku itu. Sementara cara yang agak modern, cukup dengan kompor sementara uap dialirkan melalui selang besar yang ditaruh di bawah tubuh.

Ketika Arif batimung kemarin, aku ikut juga. Ternyata, khasiatnya luar biasa. Tubuh menjadi segar dan pegal-pegal hilang, selain itu bau wangi juga terus keluar bersama keringat kita. hampir dua hari aroma wangi itu melekat di tubuhku.

Selanjutnya, satu malam sebelum pengantin dipajang, diadakan khataman al-Quran. Orang Banjar biasa menyebut dengan batamatan Quran. Malam itu, Zaki memakai pakaian Arab, jubah dan sorban yang diikat seperti punya King Faisal itu. Sementara dini memakai pakaian putih dengan asesoris yang gemerlap. Warna putih pakaian keduanya menyebabkan nampak mencolok di antara hadirin yang mengitarinya. Aku duduk bersila di samping Zaki. Mengikuti setiap ayat terakhir yang terbaca.

Shadaqallahul 'adzim. Selesailah pembacaan Quran. Doa dilafalkan. Karena saat itu tidak ada seorang guru lelaki, maka pendoa adalah ibu-ibu. Baru satu kali ini aku dipimpin oleh seorang ibu. Beliau mendoa keras dan panjang. Bacaannya fasih dan melantun tinggi. Kami mengamini dengan takdzim. Selesai semua ritual batamatan, aku dan Arif diinapkan di sebuah penginapan milik paman Zaki. Sesaat setelah mencium bau bantal, terlelaplah kami.

Pagi hari, diadakan pesta. Seluruh rumah sudah selesai dihias. Warna-warni dan gemerlap. Rumbai-rumbai merah, kuning, hijau biru betebaran di dinding rumah. Apalagi pelaminan. Bunga-bunga dan pita warna mendominasi tempat duduk bertilam merah tua itu. Diniy nampak makin aneh dengan make up yang berlebihan bagi seorang akhwat begitu. Bagiku terlalu menor. Saat kutanyakan, Diniy hanya bisa menyerah pada tradisi. Begitulah adat orang tua kita. Dandanan bagi pengantin sudah ditentukan. Apalagi di Jawa ada namanya kemben basahan, yang menampakkan punggung mempelai putri. Inilah budaya dan adat. Demikian juga Banjar.

Hiburannya adalah solo organ dan pentas seni anak-anak TPA binaan ibu mertua Diniy. Lucu dan lugu anak-anak itu menyanyi di panggung. Tamu mulai berdatangan. Pembawa acara mengumumkan jika tamu adalah orang penting di kota Paringin itu. Aku lihat wakil bupati Balangan hadir beserta istri, juga kepala Dinas Pendidikan Balangan. Selebihnya aku tidak kenal sama sekali. Lalu kami makan dan foto-foto. Ritual biasa pengantinan. Jam 10.30 WITA aku dan Arif berpamitan. Harus bersegera karena perjalanan pulang lima jam lagi baru sampai Banjarmasin.

Perjalanan pulang melalui jalur yang sama. Karena sudah tahu, kami agak santai. Berhenti sebentar untuk makan di daerah sebelum kota Kandangan. Makan ketupat khas Kandangan dan makan rambutan yang manis. Warungnya tepat di pinggir sawah yang menguning padinya. Sepoi-sepoi, rasanya menyenangkan. Aku tidak terlena. Perjalanan harus berlanjut. Agak ngebut sampai di masjid Binuang, mampir sholat Dzuhur.

Setelah itu gantian Arif di depan. Sampai Martapura sore. Akan mampir ke Banjarbaru dibatalkan. Aku harus segera mengurus tiket pesawat ke Jakarta besok pagi (tanggal 9 Maret). Sampai Banjarmasin sore pukul 16.00 WITA. Selesailah petualangan pertamaku, menyisakan semangat persaudaraan, juga sedikit kelelahan fisik. Besok shubuh aku harus ke Jakarta.[]

No comments:

Post a Comment