Wednesday, March 14, 2007

Menengok KAMMI di Pondok Gede

Aku datang ke Mukernas KAMMI jam setengah satu pagi dini hari. Acara di hotel Sultan sampai habis Isya, sesudah itu aku juga harus berbincang dengan lima teman. Agung Andri (Ketua KAMMI Pusat T-V), Widya Supeno (Ketua KAMMI DIY), Alif (Ketua KAMMI Solo) dan Udin (KAMMI Purwokerto). Sehingga agak terlambat ke Pondok Gede.

Sengaja aku memilih naik angkot dan bis untuk menuju lokasi Mukernas. Selain karena ngirit, juga agar mengenal dunia malam Jakarta. Bersamaku adalah seorang sahabat dekat yang aku cintai: Syarifuddin. Kami bersahabat semenjak kelas satu SMA di Semarang dahulu. Lalu berlanjut di Jogjakarta, terakhir kami mendaki gunung Sindoro bersama-sama sebelum aku memulai petualangan ke Halmahera, Maluku Utara. Kawan satu ini sekarang sudah menjadi wartawan Seputar Indonesia. Jika anda membaca rubrik Internasional di halaman 9 koran Sindo, otaknya adalah kawanku ini.

Bersama Udin, aku menelusuri jalanan Jakarta. Numpang mobil seorang kenalan, namanya pak Rico, sampai di depan hotel Bidakara. Lalu naik bus, aku tak tahu namanya. Setelah itu pindah naik angkot. Setengah jam saja sudah sampai Asrama Haji Pondok Gede. Pertama kami salah masuk gerbang, karena sudah malam jadi sepi dan gelap.

Setelah masuk, lantai satu sepi. Acara ternyata di lantai 3 Asrama Haji. Hampir sebagian besar wajah baru kulihat di sini. Untung masih ada beberapa orang lama. Ada Muthia Esfand, partner kerjaku di Jogja dulu, kini menjadi BKM Pusat. Ada juga para miliser dan teman diskusiku via YM: Diyah 'Menik' Kusumawardhani, yang juga wartawan Sabili-majalah radikal itu; Yusuf Caesar, sang penguasa milis KAMMI; Sofyardi Rahmat, kawan diskusi dari Jember.

Sementara itu aku lihat akh Rijalul Imam, syaikul KAMMI, sedang presentasi program kerja Departemen Kaderisasi yang dipimpinnya. Aku duduk memperhatikan beliau. Beberapa program yang aku ingat adalah Tahun Membaca, Tahun Menulis dan Berbahasa Arab. Tatakallam bil lughatil 'arabiyyah fi kulli yaumi Jum'ah, kataku padanya sesaat setelah selesai. Hanya senyum yang diberikannya. Barakallah, ustadz.

Setelah itu aku keluar. Di lantai empat sudah berkumpul para petinggi KAMMI. Ketua KAMMI Pusat, Taufik amrullah, M.E; Sekjend, Rahmantoha Budhiarto, ST; Ketua Bidang Kebijakan Publik, Arif Sri Sarjono; Ketua Teritorial III, Ariyanto Hendrata; Ketua KAMMI Jakarta, Fikri Aziz; Kadept Kastrat KAMMI Jogja, Sujatmiko. Kami berdiskusi agak rame. Temanya tentang penilaian bagi kepemimpinan SBY-JK. Kesimpulan sementara adalah SBY-JK gagal memimpin. Apakah perlu dilengserkan? Nampaknya perlu pembacaan yang mendalam terkait hal ini.

Perut agak lapar. Kami semua keluar ke sebuah warung mie. Makan mie rebus sambil diskusi dilanjutkan. Ada cerita-cerita dari Udin tentang Jepan dan Cina yang berhasil memperkuat struktur negaranya. Aku terfokus pada makanan saja, lamat-lamat kudengar juga usulan demonstasi delegitimasi SBY-JK akan segera dilaksanakan.

Sudah lewat jam satu malam, kami kembali ke lokasi Mukernas di Asrama Haji Pondok Gede. Karena sudah mengantuk, aku menuju kamar penginapan peserta. Kubuka pintu, dan nampaklah puluhan manusia bergeletakan di lantai dan dipan susun. Satu kamar berisi delapan belas orang. Hawa panas dan bau keringat bercampur baur. "Beginilah jalan para pejuang mahasiswa," batinku. Memang dunia mahasiswa harus mengalami kegetiran material seperti ini. Untuk suatu saat dapat mengingat nasib rakyat kecil yang lebih sengsara.

Tapi, aku juga nggak betah. Kami putuskan tidur di ruang rapat. Beralas taplak meja putih [mohon maaf bagi panitia, taplak meja kami lepas tanpa ijin], di lantai karpet penuh debu. Terlelap.

Shubuh terbangun, bergegas ke masjid. Betul-betul masbuk. Kami ketinggalan jamaah. Selesai sholat aku dan Udin harus kembali ke Hotel Sultan. Sempat bersua dengan Muhammad Abu, SE. mantan staf dan partner kerja di Kastrat Jogja dulu, sekarang menjadi pengurus KAMMI Pusat dan tinggal di markasnya.

Kami pulang naik busway. Ini pertama kalinya aku naik busway. ACnya nyaman, kursinya empuk pula. Sekali bayar untuk berbagai tujuan. Dua ribu rupiah bisa sampai ke Gatot Subroto lagi, asal tidak keluar dari peron. Jam 08.00 WIB sampailah kami di Sultan, segera sarapan tanpa sempat mandi pagi. Berbaur dengan peserta Pendidikan Kesadaran Berkonstitusi yang lain.[]

No comments:

Post a Comment