Wednesday, March 14, 2007

Membersamai Ekonom Syariah Jogja

Pagi hingga siang tadi aku membersamai Dr. Muhammad di EFA Guest House Banjarmasin. Aku memoderatori beliau dalam acara IKADI. Dr. Muhammad adalah seorang ahli ekonomi syariah dari Jogjakarta. Beliau salah satu ketua MUI DIY, juga Ketua STEI (dulu STIS) yang terletak di Kotabaru itu. Selain itu, beliau juga pengajar paskasarjana UIN Sunan Kalijaga dan IAIN Antasari Banjarmasin.

IKADI (Ikatan Da'i Indonesia) PW Kalimantan Selatan mengadakan sebuah acara Mudzakarah Du'at bertajuk "Membedah Penyakit Riba dalam Tubuh Perekonomian Ummat". Peserta yang hadir dari seluruh ormas keagamaan Islam di Kalimantan Selatan (NU, Muhammadiyah, Hizbut Tahrir) dan institusi keuangan Islam. Termasuk BNI Syariah, Asuransi Takaful dan beberapa BMT. Acara ini diadakan di EFA Guest House komplek Bun Yamin Kertak Hanyar, pinggiran kota Banjarmasin.

Sebelum memulai materi, kekhasan Dr. Muhammad untuk bercerita tentang keislamannya. Ayahnya adalah Katholik Jawa sementara sang ibu beragama Konghucu. Beliau keturunan Tionghoa dan nama aslinya adalah Ma Chi Peng. Masuk Islam pada semester kedua kuliah saat di IKIP Yogyakarta (sekarang UNY). Setelah itu, Muhammad diusir dan dikucilkan keluarganya. "Namun, alhamdulillah, saat ini keluarga saya sudah Islam semua. Kedua orang tua saya juga wafat dalam keadaan Islam," ungkap beliau.

Materi yang diberikan berkaitan dengan riba. Definisi riba menurut beliau ada banyak hal, bukan hanya ziyadah atau tambahan saja. Ibnu Arabi al-Maliki dalam kitab Ahkam al-Quran, menyebut riba sebagai penambahan yang diambil tanpa adanya satu transaksi pengganti atau penyeimbang yang dibenarkan syariah. Transaksi itu maksudnya adalah transaksi bisnis atau komersial yang melegitimasi adanya penambahan tersebut secara adil.

Selain itu, Dr. Muhammad juga memaparkan tentang Maghadir sebagai penyakit masyarakat. Maghadir singkatan dari Ma'siyat (asusila), Gharar (judi, manipulasi), Dzulm (kezaliman, kriminalitas), Riba (bunga bank) dan Riswah (suap). Padahal seingatku lagu Maghadir itu cukup terkenal di kalangan tradisionalis. Ternyata tidak salah, lagu yang dikira bagian dari shalawat itu ternyata semacam lagu cengeng. Cuman karena dalam bahasa Arab, dikira lantunan shalawat.

Riba sendiri bukan persoalan hanya milik umat Islam. Dr. Muhammad menjelaskan bahwa pada mulanya pihak gereja pun melarang kelebihan uang yang disebut usury. Kata ini dipakai pada Abad Pertengahan, namun kemudian dengan perkembangan situasi hubungan negara (kerajaan) dan gereja saat itu, digunakan term baru yang lebih lunak dan dilegalkan dengan dinamai interest. Interest yang sekarang masuk ke dunia perbankan dan perbedaannya dengan usury hanya pada persoalan batas angkanya. Situasi yang kurang lebih terjadi pada Bahasa Indonesia: kata rente yang cenderung diartikan negatif diganti dengan bunga. Ini pembagusan bahasa, ameliorasi.

Pada saat sesi tanya jawab, aku menyinggung Muhammad Yunus di Bangladesh yang berhasil mengentaskan kemiskinan di negara itu. Kata Dr. Muhammad, sistemnya tidak syariah, hanya saja, sistem kontrol kolektif yang menyebabkan menjadi berhasil. Bahkan ungkapnya, sistem itu mencontoh punya Syahriel yang asli Indonesia. Diskusi tentang ekonomi syariah untuk selanjutnya, anda bisa baca di situs-situs yang ada. Karena aku sendiri minim interest terhadap masalah perduitan begitu.

Acara selesai menjelang Dzuhur, karena Dr. Muhammad harus segera ke BNI untuk sowan dan tatap muka. Aku sendiri juga segera pulang ke Sungai Tuan, sarangku yang nyaman.[]

No comments:

Post a Comment