Sunday, March 4, 2007

Ketika Akhir Pekan Datang

Pagi tadi hari Minggu. Hari yang selalu dinantikan para pekerja seperti diriku. Satu hari penuh yang bebas kuisi apapun. Aku yakin, kita juga menunggu dengan tidak sabar hari yang bisa digunakan untuk refresh seluruh sendi dan urat syaraf yang tegang setelah seminggu bekerja.

Jika masih di Jogja, maka toko buku atau gunung menjadi pilihan utama. Dua itu memang hobiku: membaca buku dan membaca alam. Sayang, kota Banjarmasin hanya berisi sungai, itupun kotor dan banyak sampah. Slogan kota Banjarmasin Bungas yang berarti Banjarmasin Cantik nampaknya jauh panggang dari api. Walaupun begitu, kulihat beberapa sudut kota mulai dibenahi. Adanya siring di pinggiran sungai Martapura yang dibuat taman sudah cukup indah. Tepat di seberang sungai, Masjid Sabilal Muhtadin nampak gagah di tengah kota, dilingkupi pohon-pohon tinggi yang teduh.

Malam minggu aku ke depan kantor walikota Banjarmasin. Seberang jalan juga sudah dibangun taman kecil di bibir sungai yang lebarnya mencapai lima belas meter itu. Duduk di sana, diterangi lampu merkuri menatap jukung yang berjalan di atas air. Tanpa lampu, para penumpang tetap bisa melaju. Cukup satu motor sebagai penggerak perahu kayu kecil itu. Kecipak-kecipik air menjadi hiburan di tengah kesendirian.

Aku melihat, banyak pasangan anak muda yang berada di kegelapan, di bawah pohon atau di dermaga jukung yang sepi. Berdua memadu kasih. Entah sudah menikah atau belum. Nah, untuk mengecek yang ini, kemarin malam aku berjumpa tiga orang polisi dari URC (Unit Reaksi Cepat) yang mendekati satu persatu pasangan itu lalu diminta menujukkan tanda pengenal. Nampaknya langkah pemerintah ini cukup efektif untuk menekan angka perzinahan di kalangan remaja.

Tadi pagi, aku pergi pagi-pagi. Belum sempat mandi segera keluar rumah. Kebetulan ada sepuluh orang rombongan keluarga seorang kawan yang menginap di rumah yang kutempati. Ramai sekali. Agak suntuk, jadi cepat keluar.

Minggu pagi, masyarakat Banjarmasin punya kebiasaan olahraga. Sama dengan Jogja--tepatnya di sekitaran kampus UGM--bukan hanya anak muda, orang tua dan anak-anak juga keluar rumah untuk jogging dan refreshing. Seluruh jalan Ahmad Yani dipenuhi pejalan kaki. Bermacam orang kulihat, ada yang benar-benar olahraga (maksudku dari pakaian yang dikenakan dan keringat yang menempel di dahi), ada pula yang sekedar mejeng dan cuci mata.

Aku mengikuti para olahragawan massal itu, mereka menuju ke arah timur kota. Ternyata ke perbatasan dengan Kabupaten Banjar. Semuanya masuk ke Pasar Ahad Kertak Hanyar. Mereka berbelanja. Ada yang memang membeli sayuran, ada juga yang jajan soto atau minuman ringan. Pasar Ahad Kertak Hanyar memang hanya buka hari Minggu saja. Berbagai macam dagangan digelar.

Dalam bahasa Banjar, kertak berarti jalan sedangkan hanyar itu baru. Memang pembangunan kota Banjarmasin dan kota-kota satelitnya baru digalakkan beberapa tahun ini. Pembangunan ini sekaligus membabat tradisi sungai. Ketika jalan raya dibangun, maka jukung ditinggalkan. Sungai hanya untuk tempat sampah, menjadi semakin dangkal dan kotor.

Aku duduk di depan pasar. Menemani seorang tukang parkir. Namanya Fatkhur, datang dari Jawa, tepatnya Magelang. Ada juga seorang sarjana, menjaga parkir motor. Aku lupa bertanya namanya, dia berasal dari Tuban, sebuah kota pesisir di Jawa Timur. Setelah ngobrol, aku duduk di pinggir selokan depan pasar. Jika kusebut selokan, mohon jangan banyangkan seperti sebuah got di Jawa. Selokan di sini lebarnya lima meter. Termenung membayangkan tentang perjuangan hidup, tentang rezeki dari Tuhan dan tentang ikhtiar manusia untuk mendapatkannya.

"Tirakat dhisik Min, tirakat. Semuanya itu dimulai dari bawah." demikian nasehat Habib Novel tadi sore kepadaku.[]

1 comment:

  1. Waaahhh, biarpun tdk sama dgn di Jogja, paling tidak liburan datang jg berkesan....

    Tp lain kali mandi dulu sebelum keluar rumah, :D

    ReplyDelete