Wednesday, February 28, 2007

Habib dan Maulid Habsyi

Lelaki itu bernama Habib Novel Hussein Alaydrus. Tinggi, kurus, berhidung agak mancung. Perawakan dan perwajahan yang masih berwarna Timur Tengah. Namun, kemelayuannya jelas lebih kental. Entah sudah keturunan keberapa dari Muhammad Rasulullah. Malam ini aku berjumpa dan bershalawat bersamanya.

Ba’da isya menelusuri kembali jalanan menuju Sungai Tabuk, sebuah kecamatan di kabupaten Banjar. Sekitar 20 kilometer dari kota Banjarmasin. Memacu motor di sepanjang pinggir sungai Martapura, sungai besar yang menjadi pusat bagi seluruh aktivitas masyarakat. Mungkin bagi yang pertama kali datang—dan tidak terbiasa dengan peradaban sungai—akan merasa jijik, kotor dan segera menjauh. Tapi, itulah. Di sini, hidup adalah air, sekotor dan secoklat apapun airnya. Tercampur dengan berbagai benda: cair dan padat.

Tidak ada setengah jam, aku sampai di sebuah rumah mungil berlantai dua. Jangan banyangkan seperti di perkotaan. Rumah ini seluruhnya terbuat dari kayu. Lantai satupun jika aku berdiri, kepala menyentuh atapnya, tidak sampai dua meter. Di ruangan sempit berukuran 4x4 itu, telah duduk tiga orang. Seorang guru, anak muda dan habib sendiri. Aku masuk bersama temanku, mengenalkan diri dan berbincang ala kadarnya.

Lima belas menit kemudian, habib menyuruhku berwudhu, “kita akan bermaulid habsyi,“ katanya dengan wajah wibawa. Bergegas aku ke depan rumah. Tepat di seberang jalan depan rumah, terbentang sungai Martapura yang lebar. Banyak jukung (perahu kecil, alat transportasi di Banjar) berlayar, bahkan tongkang batu bara melewatinya aliran Martapura.

Malam itu gelap. Jengkerik terdengar keras suaranya di seberang sungai yang penuh rawa-rawa. Hawa dingin menelusup kulit saat air berwarna coklat tua itu kubasuhkan ke wajah. Ku buang rasa jijik. “Bukankah air ini musta’mal, lebih dari dua qullah bahkan air ini mengalir, yang menurut Syafi’i dihukumi suci,“ batinku.

Selesai wudhu, kembali duduk melingkar. Lalu, mulailah ritual maulid habsyi itu. Pertama dupa dinyalakan. Para Tionghoa biasa memakai benda yang mereka sebut hio (dupa harum) itu sebagai perangkat sembahyang di kelenteng. Di ruangan sempit ini, benda berbentuk batang kayu kecil mirip kembang api itu dinyalakan. Efeknya, seluruh ruangan dipadati bau harum yang aneh. Nuansa magis menyeruak.

Lalu, di tangan habib mengoleskan minyak wangi yang berbau kasturi ke seluruh baju gamisnya. Telapak tangan luar dalam, juga lehernya tak ketinggalan. Botol kecil lonjong itu diedarkan keliling, aku mengikuti yang habib perbuat. Tangan dan baju kaosku kuolesi cairan warna emas yang harumnya setengah mati itu. Suasana magis makin tajam. Rasanya ada di sekeliling malaikat.

Habib mulai berkomat-kamit. Lama-lama semakin jelas. Pertama nama Rasulullah, lalu istri-istrinya, anak-anaknya. Terutama Abu Karbala: Hussein bin Ali bin Abu Thalib ra. Lamat kudengar nama-nama shahabat disebut. Satu persatu, ada Ka’ab bin Malik, Malik bin Anas, Salman al-Farisi, dan sebagainya. Batinku, luar biasa habib ini. Menyebut nama sahabat sembari terpejam mata. Mungkin membayangkan wajah dari nama-nama yang disebut. Setiap jeda beberapa nama, diikuti shalawat nabi yang kami sahuti berirama. Terakhir, habib mengucapkan nama kakek-kakek dan buyutnya, yang menyambungkan nasabnya hingga ke Muhammad.

Setalah itu, kitab Shimtud-Durar dibuka. Habib membaca keras dan berirama. Setiap dua bait dilanjuti shalawat. Bergantian memutar membaca kitab kecil warna hijau itu. Sampai pada orang ketiga, seluruh hadirin berdiri. Lantunan shalawat makin melengking. Suara merdu bersahutan mengirim cinta pada Muhammad, mendoakan keselamatan bagi baginda rasul. Sepuluh menit kemudian, kami duduk lagi. Doa terakhir oleh tuan guru. Selesailah ritual pembacaan Maulid Habyi.

Wajah-wajah agak sembab. Terbuai masuk dalam dunia magis dan spiritual yang diciptakan Maulid Habsyi. Tak banyak pembicaraan setelah itu. Bersalaman lalu pulang, sementara habib naik ke lantai dua setelah sebelumnya menyuruhku makan di dapur keluarga. Dasar memang belum makan, aku habiskan lauk bakwan yang tersedia. Rasanya lezat, mungkin karena habis bershalawat tadi.

Selesai, lalu kami berdua pamitan pulang. Membawa setumpuk nuansa baru. Cinta akan nabi dan keluarganya. Juga sahabat dan pengikutnya.[]

2 comments:

  1. bermaulid habsyi itu membaca sholawat? seperti halnya orang NU min? atau bacaannya lebih spesifik lagi?

    hmm..inikah yang kamu maksud orang banjar rata2 menganut syiah?

    ReplyDelete
  2. Sebenarnya bukannya bermadzhab Syi'ah, Karena Syi'ah itu hanya mengagungkan Ahlul Bait, namun secara berlebihan.

    Kami di lingkungan Malang Raya (yang notabene mayoritas NU dan bermadzhab Syafi'i) juga biasa mengadakan Majelis Maulid, baik maulid Diba' maupun Simtud Duror (Maulid Habsyi), salah satu majelisnya yang terkenal dan terbesar yakni "Majelis Maulid dan Taklim Riyadhul Jannah".

    ReplyDelete