Sunday, March 18, 2007

Berita Duka

17.03.07 10:35

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah meninggal dunia pengasuh Ponpes Hasyim Asyari, KH. Zainal Arifin Thoha (Gus Zainal), Rabu 14 Maret karena sakit jantung." demikian bunyi sms dari seorang kawan.

Zainal Arifin Thoha adalah seorang sastrawan, budayawan, agamawan dan kolumnis yang sangat produktif. Karyanya banyak dipublikasikan dalam berbagai media massa. Selain itu, Gus Zainal juga memotori berdirinya penerbitan buku-buku sastra klasik melalui penerbit Navila. Sempat juga mendirikan sebuah majalah sastra pesantren bersama kawan-kawan santri.

Di wilayah gerakan, Gus Zainal pernah menjadi Wakil Ketua GP Ansor DIY. Perhatian terhadap pengkaderan mahasiswa, beliau wujudkan dengan menjadi pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asyari. Ponpes ini, pertama berlokasi di bilangan Karangmalang Yogyakarta, persis di belakang kosku dulu di Blok E-22 Karangmalang. Mungkin untuk mendekatkan santri pada kultur pesantren yang asli, lokasinya dipindah ke daerah Krapyak. Di sebuah gang sempit bersampingan dengan Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta.

Perpindahan ini sekaligus diikuti dengan pendirian Lembaga Kajian KUTUB yang melahirkan banyak penulis handal. Tulisan pegiat KUTUB sering nongol di Kompas, menunjukkan mutu tulisan yang cukup tinggi. Koordinator KUTUB saat ini, Gugun el-Guyanie setahuku juga salah seorang anggota KAMMI UNY.

Muara dari berbagai lembaga yang bergerak di wilayah sastra dan kepenulisan ini tetaplah Gus Zainal. Kyai muda ini memiliki banyak jasa dalam mendorong mahasiswa khususnya untuk mengkaji khazanah klasik. Berbagai kitab kuning dipelajari untuk mengantarkan pemahaman secara menyeluruh terhadap teks-teks Islam. Memang pewarisan nilai dan pengetahuan dalam bentuk pengkajian kitab klasik menjadi dasar bagi keberlanjutan sastra Islam. Kitab-kitab alat, seperti Matan al-Jurumiah, Matan Alfiyah dan sebagainya menjadi dasar yang penting. Selain itu, cerita klasik semisal Alfu Laila wa Laila (Seribu Satu Malam) juga bisa memperkaya warna sastra Islam modern.

Aku memang tidak begitu dekat dengan Gus Zainal, namun beberapa kali aku mengikuti forum kajiannya. Terakhir kali berjumpa dengan beliau dalam sebuah forum diskusi yang diselenggarakan Lembaga Kajian KUTUB, Januari 2007. Saat itu, aku sempat bertanya tentang buku terbaru yang akan terbit. Gus Zainal mengatakan, akan melahirkan buku yang bertema kerakyatan. Bagaimana agar gerakan mahasiswa, partai politik dan organ yang lain berpijak pada rakyat (grass root). Analisis dan prasaran yang diberikan Gus Zainal mendorong terjadinya realisasi gagasan keadilan Islam.

Terakhir, nuansa tradisionalis dan ketawaduan Gus Zainal adalah dua hal yang membuatku terkesan dan dekat. Selain itu, warisan beliau berupa karya tulis, berbagai cerpen, naskah transkrip, kritik sastra, kritik sosial politik yang kadang pedas. Terlebih warisan berupa komunitas dan institusi intelektual menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Selamat jalan, kyai. Semoga Allah membalas seluruh jasamu yang telah kau torehkan dalam sejarah kepenulisan santri.[]

No comments:

Post a Comment