Thursday, March 15, 2007

Bahkan Wakil Walikota Ikut Push Up

Hari ini ada kesibukan besar di antara para sahabatku. Pagi tadi aku masuk ke ruangan, mereka sedang menggelar sebuah dome (tenda plastik warna-warni). Di sudut ruangan ada tali besar yang biasa untuk repling, setumpuk zak plastik, megaphone, obat-obatan dan perlengkapan P3K. Kaos seragam warna coklat dengan tulisan Pandu Keadilan di punggung, betebaran di lantai.

Ternyata, besok pagi para sahabatku ini akan berangkat menuju Desa Malinau, Loksado. Sebuah desa pegunungan dan hutan yang masuk kabupaten Hulu Sungai Selatan. Mereka akan mengikuti acara yang bernama Mukhayyam Pandu Keadilan Menengah I yang dikoordinir oleh deputi Kepanduan Partai Keadilan Sejahtera. Mukhayyam (perkemahan, bhs Arab) berisikan materi ketahanan fisik, juga game-game motivasi dan pembentukan kepribadian, dan pelatihan keterampilan khususnya dilapangan, mungkin dapat disamakan dengan kegiatan dalam Pramuka.

Apa yang unik dari acara ini? Ternyata pesertanya adalah seluruh kader inti PKS. Tampak wakil walikota Banjarmasin, Alwi Sahlan, Msi juga ikut push up pada pra-mukhayyam kemarin. Selain itu pejabat publik yang lain, anggota dewan, ketua partai dan fungsionaris lainnya ikut.

Selain itu, yang unik adalah para Srikandi yang berkiprah juga melalui sebuah biro. Biro ini bernama Santika, singkatan dari Barisan Putri Keadilan. ”Para akhwat merupakan anggota terbesar dalam PKS. Karena itu pemberdayaan mereka juga menjadi tanggungjawab bagi kami,” ungkap komandan Santika Banjarmasin, Hairiyani.

Anggota PKS yang mayoritas jilbaber ini, ternyata juga tidak sungkan melakukan kegiatan fisik sebagaimana laki-laki. Dalam pelatihan Santika, mereka juga melakukan repling, hiking, bahkan bela diri. Selain itu, juga diadakan senam aerobik setiap hari Selasa sore di kantor DPW PKS Kalsel, bahkan dengan mengundang instruktur aerobik profesional.

Beginilah proses pendidikan jasadi dari sebuah komunitas politik. Walaupun orientasinya adalah kekuasaan, namun pemberdayaan tetap menjadi utama. Sudah sering aku ungkapkan bahwa partai hanyalah sebuah wasilah (alat) belaka dan bukan ghayah (tujuan). Partai hanyalah alat dan masih banyak alat yang lain untuk menegakkan kebenaran, membangun kemandirian bangsa dan memberikan kontribusi terhadap masyarakat terutama grass root. Karena itu, partai tetaplah hanya sebuah pilihan, boleh ikut boleh tidak. Saat ini, aku memilih melakukan artikulasi idealisme melalui Partai Keadilan Sejahtera.

Instrumen politik ini masih menjadi wadah yang nyaman bagi aktivis yang idealis dan mengedepankan moral. Aku pikir tidak perlu banyak apologi bagi pendapat ini, karena kesaksian dari "orang luar” PKS jauh lebih banyak. Editorial Media Indonesia pernah merekomendasikan agar demonstrasi dalam era demokrasi mencontoh anak-anak muda masjid ini. Namun, sekali lagi, partai hanyalah alat. Boleh digunakan boleh disimpan.[]

1 comment:

  1. "Namun, sekali lagi, partai hanyalah alat. Boleh digunakan boleh disimpan."

    Yakin min begini???

    ReplyDelete