Friday, March 30, 2007

Antara Milad Rasul dan Maulid KAMMI: Karena Sekarang Bukan Zaman Abrahah

Merupakan sebuah kebetulan yang terjadi di tahun 2007 ini. Peringatan ulang tahun kelahiran KAMMI yang terjadi setiap tanggal 29 Maret, diikuti selang dua hari dengan jatuhnya penanggalan Hijriyah 12 Rabi’ul Awwal, Maulid Nabi SAW. Maka refleksi kali ini akan mengkaitkan sisi sejarah dua hal itu: Milad Rasul dan Maulid KAMMI. Rasul dilahirkan sebagai pembawa pesan kebenaran, sementara KAMMI dilahirkan sebagai penegak kebenaran yang tercoreng oleh rezim penguasa. Gerakan anak muda yang ini cepat menjadi besar karena 1998 hanyalah momentum, sebelumnya telah ada fase sejarah yang mendewasakan KAMMI sendiri.

Akar dari kemunculan anak-anak muda ini menurut Eep Saefullah Fatah (Catatan atas Gagalnya Politik Orde Baru, 1998) bisa dilacak sekurangnya tiga faktor. Pertama, ekses pendidikan politik Orde Baru yang tertutup yang menimbulkan banyak kekecewaan. Ketidakpuasan terhadap mekanisme pendidikan yang tertutup di awal-awal Orde Baru, membuat mereka banyak menggali dan mencari di luar jatah belajar resmi di kampus.

Kedua, kemunculan anak-anak muda yang bersemangat ini adalah satu hasil dari transformasi ekonomi dan sosial masyarakat. Makin besarnya peluang berpendidikan tinggi, makin terbuka peluang mobilitas vertikal secara ekonomis. Hal itu menumbuhkan komunitas kritis dan well informed di tengah masyarakat. Ketiga, ekspresi dari kekecewaan terhadap politik pembangunan (developmentalisme) yang menimbulkan ketimpangan sosial yang parah.

Milad Rasul

Kelahiran Muhammad ke bumi membawa efek yang luar biasa bagi perkembangan peradaban manusia di kemudian hari. Muhammad SAW dilahirkan untuk memimpin manusia memasuki cahaya kebenaran dan kesempurnaan sistem Islam. Sekaligus menutup pintu kenabian yang turun temurun semenjak Adam AS. Mutasi genetika ajaran tauhid itu menjadi sempurna saat detik sejarah Haji Wada’ (haji perpisahan) pada tahun 11 Hijriyah.
Refleksi Maulid Nabi tentunya tidak lepas dari penceritaan kembali tentang detik kelahiran, keadaan yang melingkupi dan silsilah Muhammad SAW. Berbagai kitab klasik karangan ulama salaf dibaca kembali, bersama-sama dan penuh kekhusyuan. Membayangkan Rasulullah ikut hadir dalam majelis pembacaan kitab Barzanji, Shimtud Durar, Maulid Habsyi yang umum dilakukan kaum muslimin di Indonesia.

Tentang tahun kelahiran Rasul, tentu yang teringat dalam benak kita adalah saat penyerbuan pasukan gajah di bawah pimpinan Abrahah, sang penguasa Yaman. Sisi lain sejarah kelahiran Rasul ini menjadi menarik untuk ditelaah dan diletakkan dalam konteks masa kini, saat kaum muslimin masih mengalami banyak penderitaan dan perlakuan yang tidak adil. Semisal dalam pergaulan internasional. Isu terorisme diarahkan kepada kaum muslimin sebagai fitnah yang nyata.

Keserakahan Abrahah

Awalnya adalah kecemburuan politik dan ekonomi. Ka’bah di Makkah adalah sebuah bangunan tua yang sering dikunjungi oleh bangsa Arab dan sekitarnya. Mereka sudah mendapat warisan ajaran Ibrahim dari nenek moyang, tentang tauhid dan penyembahan terhadap Allah semata. Manifestasinya adalah sebuah ibadah akbar yang disebut sebagai haji.

Ketika itu, ziarah spritual haji dilakukan oleh ribuan orang dari seluruh penjuru Arab. Mereka mendatangi bangunan warisan Ibrahim dan Ismail itu Abrahah penguasa Yaman merasa terusik dengan keadaan itu. Abrahah sangat sadar dengan potensi yang muncul dari berkumpulnya ribuan orang itu. Keuntungan politik dan ekonomi menghantui Abrahah untuk bisa mendapatkannya juga.

Lalu, dibuatlah sebuah gereja yang megah di kota San’a, ibukota Yaman. Pengumuman dikumandangkan kepada khalayak, bahwa berziarah haji ke bangunan buatan Abrahah itu juga amal mulia. Ternyata bangsa Arab tidak bergeming. Hampir tidak ada orang yang bersedia mendatangi bangunan itu. Kegeraman muncul pada Abrahah, muncul sebuah ide jahat: untuk mendatangkan manusia ke Yaman, maka Ka’bah di Makkah harus dihancurkan dahulu.

Barisan pasukan gajah melaju ke Makkah. Sampai di pinggir kota, seluruh penduduk Makkah sudah mengungsikan diri dari kehancuran yang akan dibuat oleh pasukan besar itu. Abrahah membutuhkan logistik untuk pasukannya, akhirnya unta penduduk menjadi sasaran. Dua ratus ekor unta milik Abdul Muthalib, kakek Rasulullah ikut terampas.

Abdul Muthalib memutuskan untuk mengambil untanya, dia mendatangi Abrahah di kemahnya. Abrahah sadar bahwa yang datang kepadanya adalah pemilik kunci Ka’bah dan penjaga sumber air Zam-zam, sehingga sambutan hangat diberikan. Ternyata kedatangan Abdul Muthalib hanya untuk mengambil untanya. Abrahah bertanya, ”bagamana dengan Ka’bah yang harus engkau jaga?” Jawaban Abdul Muthalib mencengangkan, ”Ka’bah sudah ada yang mengurus, sementara tanggungjawabku hanya dua ratus ekor unta itu.”

Saat itu, bangsa Arab pemegang kunci Ka’bah menyerahkan keselamatan Ka’bah pada Allah secara total. Dan Allah segera mengirim burung Ababil sebagai penghancur bagi tentara gajah. Pertolongan Allah itu terekam secara detil dalam surah al-Fiil. Tahun penyerbuan pasukan gajah itu pula saat kelahiran Rasulullah, sehingga lazim dikatakan bahwa Rasulullah lahir pada Tahun Gajah (’Am al-Fiil).

Direct Loan

Bantuan langsung (direct loan) yang diberikan oleh Allah dalam bentuk Ababil yang menjatuhkan batu-batu panas itu menjadi pertolongan bagi bangsa Arab yang tertindas. Setelah masa kenabian, bantuan langsung masih diberikan saat pertempuran Badar yang hanya membawa sedikit pasukan. Allah mengirimkan malaikat-malaikat yang membantu kaum muslimin menggenpur musuh, sehingga pasukan kafir Quraisy kocar-kacir.

Refleksi sejarah kelahiran Rasulullah ini, yaitu saat Tahun Gajah, berkaitan dengan kondisi umat Islam yang juga tertindas dan berada dalam ketidakadilan. Kita sudah tidak bisa lagi mengharapkan Ababil turun menghancurkan pihak-pihak yang memusuhi Islam. Cukup sekali Allah menurunkan Ababil, karena setelah itu perubahan nasib hanya terjadi ketika sebuah kaum berusaha sendiri merubah nasibnya (QS al-Ra’du: 11).

Saat ini, daftar persoalan umat masih menumpuk di berbagai sektor. Taruhlah masalah kemiskinan. Wacana yang berkembang—dan ini sering menjadi pemahaman umum—bahwa kemiskinan adalah takdir, bahwa garis nasib sudah ada di lauh al-mahfudz. Paham ini cenderung jabbariyah, persis seperti yang dilakukan Abdul Muthalib saat berbicara tentang nasib Ka’bah. Sayangnya, saat ini perubahan tidak bisa terjadi secara langsung. Umat harus berusaha sendiri secara sistematis, teratur dan mensinergikan kekuatan berbagai elemen untuk mengatasi kemiskinan. Karena memang kemiskinan persoalan struktural, masalah sistem ekonomi yang tidak adil dan masalah keserakahan sekelompok orang terhadap golongan lemah (mustadl’afin) .

Abrahah menjelma menjadi Amerika dan negara Barat lain yang haus kekuasaan. Sementara pasukan gajah berwujud berbagai persenjataan modern dan kekuasaan tekanan dalam DK PBB. Indonesia tidak mempu menolak tekanan asing untuk menyetujui boikot dan isolasi terhadap Iran. Dan itu melukai negara kaum mullah tersebut.

Daftar ini bertambah panjang saat menyoal tentang hukum. Sistem hukum yang masih bernuansa kolonialis, tentunya belum bisa memberikan berkah keadilan bagi para penganutnya. Sistem hukum Islam, baik perdata (al-ahwal al-syakhsiyah) maupun pidana (jinayah siyasah) perlu diterapkan secara kaffah jika ingin keadilan muncul. Dan ini jelas tidak bisa mengandalkan takdir, malaikat tidak akan turun lagi sebagaimana kisah Badar. Umat harus menyusun sendiri langkah strategis penegakan syariat ini.

Jika KAMMI sudah menilai SBY-JK gagal dalam memimpin, maka solusi apakah yang harus segera digulirkan? Masihkah kita ingat Enam Visi Reformasi, yaitu (1) Amandemen UUD 1945 (2) Penghapusan peran Dwifungsi ABRI/TNI (3) Penerapan Otonomi Daerah (4) Penegakan Supremasi Hukum (5) Pertanggungjawaban Orde Baru (6) Budaya Demokrasi yang Rasional dan Egaliter. Enam visi besar untuk bangsa itu telah KAMMI letakkan di atas pundak pemimpin bangsa. Jika gagal, apakah kita harus menguasai jalanan kembali?

Sebagai penutup, dalam peringatan Maulid Nabi 1428 H dan Milad KAMMI ke-IX ini kembali hendaknya kita menelaah detik sejarah yang sering terlupakan itu. Saat Ababil menjatuhi pasukan serakah pimpinan Abrahah. Kesadaran untuk segera bangkit dari keadaan tertindas—baik dalam ekonomi, politik, budaya, maupun ketidakpercayaan diri (inferiority complex)—menjadi tugas pertama bagi kaum muslimin. Ingatlah, bahwa sekarang bukan zaman Abrahah dan Ababil tidak akan turun lagi.***

No comments:

Post a Comment