Friday, February 23, 2007

Kota Seribu Huruf Hijaiyyah

Semalam dari kota Martapura. Ibukota kabupaten Banjar ini sekitar satu jam perjalanan dari kota Banjarmasin, kecepatan motor standar. Jalan menuju Martapura, namanya Jalan Ahmad Yani. Nampaknya ini nama jalan terpanjang di Kalsel.

Memasuki kota ini, kita akan disambut dengan tugu yang menggambarkan berlian raksasa. Tulisan "Selamat Datang di Kota Intan," juga akan kita lihat terpampang jelas di bawah tugu itu. Semua kita tahu bahwa Martapura adalah penghasil intan berlian yang termasyhur. Bisnis ini sudah berjalan sejak dahulu. Hingga kini, toko-toko intan beterbaran di pinggir jalan, mirip dengan komplek Kotagede, Yogyakarta yang di sepanjang jalan banyak berjualan silver alias kerajinan perak.

Serambi Makkah

Sebutan ini merujuk pada budaya religius yang sangat kental di kota ini. Terdapat sebuah komplek perguruan Islam di dekat alun-alun, yaitu pesantren Darussalam. Komplek ini bernama Sekumpul. Seluruh Borneo paham dengan teritori sakral ini. Dahulu pernah hidup Guru Zaini Abdul Ghani yang dikeramatkan mendekati wali. Hampir setiap rumah kaum muslimin di Kalimantan Selatan memasang foto beliau.

Bagi anda yang pernah pergi ke Payaman, Magelang atau Mranggen, Demak dengan pesantren Futuhiyyah-nya, gambaran Sekumpul tidak jauh dari itu. Laki-laki bersarung, memakai koko atau jubah putih, peci haji warna putih dan bau harum wewangian setiap mereka melintasi kita. Pemandangan itu sangat akrab. Seluruh santri memakai busana yang sama. Tadi malam, kebetulan malam Jumat, sangat jarang aku jumpai perempuan yang tidak berjilbab. Hampir seluruhnya menutup aurat. Ini berbeda sekali dengan Banjarmasin, atau Banjarbaru.

Kota Martapura ini, semula bernama Kayutangi yang merupakan ibukota Kesultanan Banjar (terakhir di masa pemerintahan Sultan Adam). Ulama Banjar yang terkenal bernama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari penulis Kitab Sabilal Muhtadin berasal dari kota ini. Nama Sabilal Muhtadin lalu diabadikan sebagai masjid besar kota Banjarmasin, sementara nama Kayutangi tersisa menjadi sebuah nama daerah di perbatasan kabupaten Barito Kuala (Batola).

Seribu Huruf Hijaiyyah

Mengapa aku sebut demikian. Sepanjang perjalanku semalam, aku melihat seluruh instansi pemerintah [kantor bupati, DPRD, Polres, kantor dinas-dinas], plang papan namanya menggunakan aksara Arab. Tapi bukan bahasa Arab. Maksudnya adalah Arab Melayu, atau anak pesantren bilang huruf Arab pegon.

Bukan hanya itu, alun-alun kota Martapura juga bertaburan ayat suci. Gapura panjang di atas deretan toko intan, bertuliskan surah al-Fatihah lengkap dengan harakat-nya. Sementara tugu yang menjulang tinggi juga ditempeli bacaan, yang sepertinya adalah asmaul husna. "Mirip rajah [jimat yang penuh tempelan huruf hijaiyyah itu]," batinku sambil tersenyum.

Ini, katanya, adalah manifestasi penerapan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Mungkin keadaan yang sama dijumpai di Nangroe Atjeh Darussalam atau daerah dan kabupaten tertentu di Jawa. Arabisasi plang instansi pemerintah. Jadi, misalnya Polsek, maka terbaca fulsik, dewan menjadi diwan. Atau republik menjadi rifubilik...

Infiltrasi syariat ini salah satunya dengan membuat Peraturan Daerah [Perda] yang mengatur tentang Jumat Khusyuk, yaitu Perda No. 08 Thn 2005. Konsepnya, pada hari Jumat seluruh masyarakat harus melaksanakan sholat Jumat [bagi laki-laki]. Aktivitas pabrik, mesin, permainan atau hiburan dekat masjid yang dapat mengganggu Shalat Jumat, wajib dihentikan.

Khusus pengamanan di masjid besar di kecamatan Gambut dan Kertak Hanyar, pihak Satpol PP mempersilahkan kepada pengurus masjid setempat, dengan menempatkan santri perempuan atau satgas perempuan organisasi keagamaan. “Untuk honornya sudah kita pikirkan untuk dibantu dari dana operasional kita,” kata mereka. Untuk pengecualian tetap ada, bagi kendaraan pembawa jenazah atau mengantar orang sakit. Sedangkan bagi pelanggar Perda ini dikenakan denda paling banyak Rp. 25 juta dan atau kurungan paling lama tiga bulan.

Aku tidak pesimistis. Apalagi tidak setuju penerapan syariat Islam. Hanya saja, aku khawatir syariat dibatasi oleh simbolik seperti itu. Sementara moralitas birokrasi, kebersihan sistem, keadilan anggaran keuangan daerah, dan prioritas character building diabaikan.

Memahami sistem Islam itu integral. Bisa saja ini menjadi sebuah tahap awal pemakaian sistem ilahi. Selanjutnya, aku ingin menjadi saksi, seberapa kuat Martapura menghadapi globalisasi, "modernisme", dan budaya konsumtif seperti sekarang. Terutama anak mudanya. Semoga kuat.[]


No comments:

Post a Comment