Monday, February 19, 2007

Imlek dan Spirit Islam

Tanggal 18 Februari dirayakan oleh seluruh keturunan Tionghoa di seluruh dunia sebagai Hari Raya Imlek 2558. Bertepatan dengan tanggal 1 bulan 1 tahun Imlek. Di Indonesia, berawal dari kebebasan yang diberikan Presiden Abdurrahman Wahid tahun 2000, penetapan libur fakultatif oleh Menteri Agama tahun 2001, hingga penetapan libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri melalui SK Presiden RI No 19, April 2002. Hal ini merupakan kebijakan yang toleran dan menempatkan etnis Tionghoa setara dengan warga negara Indonesia lainnya. Keputusan pemerintah ini sejalan dengan proses reformasi, setelah pada periode Orde Baru, Soeharto melakukan represi yang mendiskriminasi etnis Tionghoa.

Pemerintah Orde Baru, lewat Instruksi Presiden no. 14/1967, dengan tegas melarang segala bentuk kegiatan agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa. Alasannya yakni jika berbagai kegiatan tersebut tetap dilakukan, ditakutkan para warga keturunan Tionghoa lebih pro pada negara asalnya dibanding pada Indonesia. Alasan ini sangat kekanakan dan terkesan diada-adakan untuk membenarkan kebijakan diskriminatif tersebut.

Selanjutnya, melalui tulisan ini saya akan mengelaborasi Imlek dari sisi historis dan kultural. Adakah sebuah semangat yang sama antara Imlek—sebagai manifestasi kebahagiaan—dengan ajaran syukur nikmat dalam Islam? Penulis juga mempertanyakan tentang semangat materialis an sich yang muncul dalam Imlek di era modern sekarang.

Asal Mula

Dalam sejarah, Tahun Baru Imlek muncul dari tradisi masyarakat agraris Tiongkok. Para petani yang kehidupannya tergantung kondisi alam mempunyai perhitungan sendiri untuk penanggalan yang disesuaikan dengan pola musim tanam. Hari raya Imlek (Yinli Xinnian) jatuh tanggal 1 bulan 1 tahun Imlek berdasarkan perhitungan peredaran bulan, dikombinasikan dengan perhitungan peredaran Matahari dan pergantian musim dari musim dingin ke musim semi. Kalendernya disebut nungli, berarti kalender untuk petani.

Pendapat lain menyebutkan, Imlek didasarkan perpaduan perhitungan peredaran bulan dan Matahari (lunisolar). Penanggalan ini memiliki konsekuensi tiap 19 tahun dilakukan tujuh kali penambahan atau penyisipan satu bulan pada tahun tertentu, agar jumlah hari per tahun dalam kurun tertentu sama dengan sistem solar (Lasiyo). Menjelang Imlek biasanya turun hujan, banyak buah, dan juga panen hasil pertanian lain. Hal inilah yang disyukuri petani, karena selain panen, masa itu baik untuk menanam kembali untuk musim berikutnya. Dengan demikian, selain suasana syukur, Imlek juga munculnya harapan baru untuk masa depan (musim) yang lebih baik.

Dari daerah aslinya, suasana perayaan Imlek adalah benar-benar pesta rakyat menyambut datangnya musim semi, lalu bersama-sama sambil menari-nari menanam kembali sawah dan kebun dengan tanaman sambil berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa memohon berkat yang berkecukupan. Jadi perayaan Imlek ini sebenarnya dirayakan oleh seluruh rakyat, bukan dominasi agama tertentu, karena memang perayaan untuk menyambut datangnya musim semi.

Spirit Islam

Pa
da perayaan Imlek tahun 2003, warga Tionghoa yang menganut agama Islam di Yogyakarta melaksanakan perayaan di masjid. Pelaksanaan Imlek di masjid itu dilakukan setelah mendapat dukungan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Yogyakarta yang memberikan izin kepada Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) untuk melakukan kegiatan Imlek di Masjid Syuhada, Kota Baru. Bagi mereka, Imlek dipandang bukan sebagai ritual suatu agama tertentu—Konghucu, misalnya—tetapi merupakan ungkapan syukur pergantian tahun.

Dalam konteks Islam, keberadaan perbedaan dan keanekaragaman budaya tidak diharamkan. Sebagai sebuah eskpresi adat dan budaya, hal itu menjadi boleh dan sangat wajar diramaikan oleh pemeluk Islam yang memegang budaya tersebut. Dalam al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 13 ditegaskan, Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah manusia yang bertakwa.

Betul bahwa tidak semua tradisi boleh dilestarikan. Ada tradisi yang haram dilakukan. Misalnya, dalam al-Quran surat al-Zukhruf ayat 26-30 dilukiskan bahwa Nabi Ibrahim AS menolak keras meneruskan tradisi dan keyakinan pendahulunya yang menyembah berhala. Hal ini disebabkan tradisi tersebut sama dengan syirik yang menyekutukan Allah, Ibrahim menentang diteruskannya tradisi tersebut.

Sebaliknya, jika suatu tradisi menjadi wujud rasa syukur atas karunia Allah SWT, tidak ada salahnya jika komunitas Islam melestarikan tradisi tersebut. Dalam konteks perayaan Imlek, jika terkait dengan penyembahan sesuatu selain Allah, komunitas Islam haram merayakannya. Sebaliknya, jika sebagai wujud rasa syukur, perayaan Imlek hanya sekadar wujud perenungan dan rasa syukur bahwa manusia merasakan kehidupan seiring dengan pergerakan waktu.

Sehingga di sini dapat dimaknai bahwa Imlek tidak bertentangan dengan Islam selama tidak terjadi kesyirikan dalam perayaannya. Seyogyanya, kalangan Tionghoa yang menjadi Muslim, merayakan Imlek—yang merupakan budaya leluhur—dengan cara-cara Islami, yaitu perenungan dan kesyukuran. Bagi anda yang bukan Tionghoa, dapat menangkap spirit kebahagiaan dan nilai spiritual Imlek tersebut.

Bukan Hanya Gong Xi Fa Cai

Di era modern ini nampaknya telah terjadi sebuah pergeseran makna Imlek. Selama ini, koran dan reklame memopulerkan ucapan selamat yang berbunyi ”gong xi fa cai.” Ucapan ini berarti “semoga tambah kaya!” dalam dialek Guangzhou. Sebetulnya, jika ditilik dari asal mula dan sejarahnya di atas, ucapan di kalangan orang Tionghoa yang dahulu, berbunyi ”sin cun kiong hi” sebenarnya paling pas. Artinya ”selamat memasuki musim semi” (xin chun gong xi). Hal ini terjadi sejalan dengan budaya dagang di kalangan Tionghoa yang mementingkan akumulasi kekayaan, maka ucapan Gong Xi Fa Cai memang agaknya lebih tepat. Walaupun sebetulnya, pada hari yang membahagiakan ini apa saja boleh diucapkan. Tambah bahagia, tambah kaya, tambah panjang umur, atau yang lain.

Namun sebenarnya, dalam tradisi masyarakat Tionghoa, yang paling penting dalam perayaan Imlek ini adalah kembalinya makna keluarga. Berbagai macam ucapan di atas, hanya untuk mengiringi sebuah kegembiraan yang lebih dalam lagi, yaitu kegembiraan menjadi bagian satu keluarga. Dalam tradisi Tionghoa yang sudah berumur 4.000 tahun, ”keluarga” atau jia mempunyai kedudukan sentral. Bagi masyarakat Tionghoa, keluarga bukan hanya lingkungan tempat ia dilahirkan dan dibesarkan, tetapi juga kiblat atau koordinat tempat ia berpijak untuk mengarungi samudera kehidupan. Dari keluarga ia mendapatkan bantuan apa saja: moral, spiritual, material. Sedemikian erat hubungan dalam keluarga sehingga tidak jarang muncul ekses-ekses ke arah nepotisme. (I. Wibowo: 2003).

Perayaan Tahun Baru Imlek pada intinya perayaan anak-anak yang ingin menunjukkan xiao (bakti) mereka kepada leluhur. Semua anak, cucu, semua saja yang masih mempunyai hubungan darah, datang berkumpul untuk bertemu. Arwah leluhur memang didoakan dari waktu ke waktu, tetapi sembahyang pada kesempatan Pesta Musim Semi inilah yang paling besar dan paling resmi dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. Semua orang akan berusaha sekuat tenaga untuk pulang ke kampung halaman untuk merayakan xin nian (tahun baru).

Maka sebetulnya, tradisi Imlek tidak berbeda dengan kultur mudik yang hanya ada di kalangan muslim Indonesia. Mudik adalah kembali kepada keluarga di rumah asal. Merayakan hari raya bersama, saling meminta maaf dan mendoakan. Sekaligus untuk menunjukkan bakti yang menjadi manifestasi ajaran birr al-walidain dalam Islam.Pesan yang paling mendasar kali ini adalah mengembalikan makna Imlek pada kesyukuran atas datangnya masa baru untuk menanam budi baik. Bukan hanya menjadi tambah kaya (Gong Xi Fa Cai), tapi yang paling penting adalah datangnya hari baru dan tahun baru. Akhirnya, penulis mengucapkan Xin Nian Kuaile (selamat tahun baru)!***