Thursday, February 22, 2007

Finding Forrester: Sastra dan Penulisan

Tanggal 20 Februari 2005, sudah lama ya, aku menonton sebuah film yang sangat menarik. Film itu berjudul Finding Forrester. Segera setelah habis, aku menulis beberapa baris kalimat. Berisi kesan dan sinopsis versiku sendiri. Berikut ini tulisannya:


“Saya merekomendasikan agar dalam sebuah training jurnalistik atau pelatihan tulis menulis, film ini diputar,” demikian jika aku memiliki otoritas untuk mengatakan. Berkisah tentang seorang penulis misterius bernama William Forrester yang hanya menulis sebuah buku selama hidupnya, dan buku itu menjadi bahan kajian bagi seluruh dunia sastra. Siapa dia, siapa keluarganya, bagaimana masa lalunya dan mengapa dia hanya menulis (untuk diterbitkan dan dibaca oleh publik) satu buku saja, yang berjudul Avalon Landing? Semua itu adalah pertanyaan yang sangat menarik untuk dijawab.

Tokoh kedua film ini adalah Jamal Wallace—mungkin black moslem. Seorang anak muda negro berusia 16 tahun, sekolah di sebuah SMU negeri di daerah kelahirannya—dan dibesarkannya—di Bronx, wilayah ‘hitam’ di Amerika. Secara tak sengaja—atas tantangan kawan-kawan basketnya—dia memasuki sebuah rumah misterius di ujung lapangan basket tempat biasa mereka bermain. Jendela misterius dengan korden putih transparan, di lantai atas itu selalu menampakkan sesuatu yang misterius. Ada cerita simpangsiur mengenai penghuninya, ada yang mengatakan hantu, pembunuh berdarah dingin atau sesuatu yang tak terdefinisi.

Ketika malam tiba, Jamal menaiki tangga dan masuk melalui jendela. Di dalam gelap gulita. Dia menemukan tumpukan buku, televisi yang menyala dan sebilah pisau yang sangat tajam. Secara sekilas, film ini nampak horror, apalagi bagi yang tidak tahu jenis filmnya.

Dari penyelundupan itulah, akhirnya Jamal mengenal sang penghuni misterius yang tidak lain adalah William Forrester. Hal ini disadarinya, ketika hari pertama pelajaran sastra di sekolah barunya, guru sastra mewajibkan murid di kelas itu untuk membaca sebuah novel tulisan Forrester berjudul Avalon Landing. Mulanya dia tidak tahu, namun ketika di sebuah ‘kencan pertama’ dengan Claire Spence—gadis kulit putih yang cantik dan anak dari Dr. Spence, ketua dewan penyandang dana sekolah—sang gadis membawa novel Avalon Landing cetakan pertama yang memampangkan foto muda Forrester. Saat itulah Jamal sadar, bahwa kawan tuanya itu adalah seorang penulis masyhur.

Cerita berikutnya adalah mengenai dunia tulis menulis. Jamal banyak mendapatkan teori menulis. Teori dari hati. Karena pelajaran pertama dari Forrester adalah bahwa pekerjaan penulis adalah menulis dan bukan berfikir. Jadi ketuklah tuts dengan keras dan lancar, baru kemudian gunakan otakmu untuk menyaringnya. Mirip tulisan Hernowo dalam bukunya, Menulis dengan Emosi.

Lalu tentang paragraf, tentang bahasa yang baik dan benar; penggunaan konjungsi ‘dan’ serta ‘tetapi’ di awal kalimat, perdebatan mengenainya: sebuah kesalahan atau justru penimbulan efek psikologis penegasan paragraf. Juga wacana penulisan yang lain. Di sini, aku mencatat beberapa hal:

Satu, sekali lagi, aku harus kagum dengan sistem pendidikan dan penghargaan terhadap pengetahuan sebagaimana yang ditampakkan di film ini. Barat, menghargai pengetahuan, karena itu mereka besar. Sistem sekolahnya juga mendukung kondisi ini. Terlepas dari moralitas dan budaya sekuler mereka, pengetahuan sebagai induk segala kehidupan, ditampilkan menjadi nadi dalam tubuh kehidupan manusia.

Dua, film ini sangat mirip dengan Dead Poet Society yang dibintangi Robin William. Menceritakan tentang dunia sastra—dan model pengajarannya. Mengungkap sikap eksentrik para penulis dan sastrawan. Aku yakin di Fakultas Bahasa dan Sastra, film ini menjadi tontonan wajib. Minimal ketika Ospek.

Terakhir, film ini menawarkan sebuah pengetahuan tentang cara menulis. Selanjutnya, segeralah menulis![]


3 comments:

  1. yupz..menulis memang harus dari hati. Kalau tidak, tulisan jadi tidak bernyawa dan terasa datar.

    ReplyDelete
  2. Hem...film yang bikin penasaran, tengkyu riviewnya, ntar dech ane cari film entu di rentalan. BTW, keep writing bro :-)

    ReplyDelete
  3. tq 4 posting ..... =)

    ReplyDelete