Monday, February 19, 2007

Falsifikasionisme: Skeptis Spekulatif atau Optimisme Intelektual?

Hari ini belum sempat nulis. Semoga nanti malam ada kesempatan untuk mengetik. Sebagai gantinya, ada tulisan lama yang bisa dibaca-baca.

DAPAT dikatakan bahwa falsifikasionisme adalah sebuah pendirian dari para peneliti dan pengamat yang skeptis dan spekulatif. Teori yang dipeganginya, diuraikan sebagai dugaan atau tebakan spekulatif dan coba-coba, yang diciptakan secara bebas oleh intelek manusia dalam mengatasi masalah yang terdapat pada teori sebelumnya. Teori spekulatif ini akan diuji secara keras dan serius melalui observasi dan eksperimen. Hanya teori yang paling cocok yang dapat bertahan. Selagi ia tidak pernah dapat dikatakan sah sebagai teori yang benar, teori tersebut—untuk sementara—dapat dianggap sebagai yang paling baik di antara yang bisa diperoleh dan lebih baik dari sebelumnya.

Pendirian dan pandangan ilmiah seperti ini, secara tidak langsung menumbuhkan sikap skeptisme peneliti. Memang relativitas adalah sesuatu yang melekat pada semua hal—kecuali Tuhan, barangkali—namun jika asumsi yang dilebih-lebihkan akan ketidakbenaran sebuah generalisasi (atau “teori”) sebagaimana kaum falsifikasionis ini, kemungkinan akan membuka peluang invaliditas sebuah hasil pengamatan. Secara psikologis, seorang peneliti, sudah memiliki keyakinan bahwa teori yang dipakainya adalah salah.

Walau begitu, di sisi lain juga dapat menumbuhkan sebuah spirit intelektualitas. Bahwa akan selalu ada yang baru dalam cara memandang dan meletakkan sebuah fenomena ilmiah. Artinya, seorang falsifikasionis akan selalu mencoba kreatif dalam berfikir dan mengkonsep sebuah paradigma dan teori baru.

Beberapa pendukung logika falsifikasionis dikemukakan oleh Chalmers, diantaranya: jika kita berasumsi bahwa keterangan-observasi yang benar dapat diperoleh dengan satu atau lain cara, maka tidak akan pernah mungkin dicapai hukum-hukum dan teori-teori universal dengan deduksi-deduksi logis di atas dasar itu saja.

Artinya, sangat mungkin untuk mengambil deduksi logis dari keterangan observasi tunggal sebagai premis, untuk sampai pada ketidakbenaran hukum universal. Di sini, ketidak benaran keterangan universal dapat dideduksi dari keterangan tunggal yang cocok.

***

Apakah falsifiabilitas adalah “teori” tersendiri? Ilmu, dalam pandangan falsifikasionis, adalah seperangkat hipotesa yang dikemukakan secara coba-coba dengan tujuan melukiskan secara akurat perilaku suatu aspek dunia atau alam semesta. Namun, ada satu syarat fundamental kalau suatu hipotesa atau sistem hipotesa ingin diakui memiliki status sebagai hukum atau teori ilmiah, yaitu: harus falsifiabel (dapat dinyatakan sebagai benar atau salah).

Sebuah hipotesa adalah falsifiabel apabila terdapat suatu keteangan-observasi atau suatu perangkatnya yang tidak konsisten dengan teori itu, yaitu apabila ia dinyatakan sebagai benar maka ia akan memfalsifikasi hipotesa itu.

Bagaimana ukuran falsifiabilitas? Suatu teori menjadi falsifiabel ketika mengemukakan klaim-klaim tertentu tentang dunia. Teori yang sangat baik adalah teori yang mengemukakan klaim paling luas jangkauannya dan tahan uji. Dalam hal ini, Chalmers mengambil contoh “superioritas” teori Kepler atas Newton dalam mendefinisikan dunia, yaitu perilaku planet serta fenomena alam lainnya.

Kita belajar dari kesalahan-kesalahan. Demikian yang yakini oleh kaum falsifikasionis. Ilmu berkembang maju dengan berbagai percobaan dan bermacam kesalahan. Karena situasi logis yang membuat penarikan hukum dan teori universal dari keterangan-observasi tidak mungkin, maka varian falsifikasi menjadi tonggak-tonggak penting, ia merupakan prestasi yang menonjol.

Mungkin yang agak ekstrim adalah, anjuran falsifikasionis untuk menggalakkan spekulasi-spekulasi yang berani. Spekulasi tergesa-gesa bukan sebuah masalah, asal saja falsifiabel dan asalkan ditolak bila ter-falsifikasi, demikian kata mereka. Hal ini jelas berlawanan 180 derajat dengan kaum induktif naif yang meyakini bahwa hanya teori-teori yang dapat dibuktikan benar atau boleh jadi benar yang dapat diterima sebagai ilmu. Kita boleh maju sampai di luar hasil-hasil langsung pengalaman, hanya sejauh induksi yang sah mengijinkannya.

Sebagai refleksi terakhir, mungkin harus dipikirkan tentang alur penarikan kesimpulan yang lazim di kalangan para ilmuwan. Dalam pemaparan Chalmers, agaknya, kaum falsifikasionis menyalahi keumuman ini. Bahwa suatu teori besar yang diambil berdasar pengamatan induktif harus di-tip ex oleh penarikan hukum dan teori baru berdasar deduksi fenomena tunggal. Nampak sekali terdapat sikap skeptis-spekulatif dari pendirian ilmuwan ini. Namun, sekali lagi, tidak ada yang absolut di dunia ini—kecuali Allah—termasuk dalam proses penarikan teori dalam pengamatan fenomena. Sepertinya antara NU dan Muhammadiyah (yang diwakili metode hisab dan ru’yat-nya) tidak akan bisa berdamai, sebagaimana kaum falsifikasionis dengan induktif naif.***