Wednesday, February 28, 2007

Eksploitasi Anak di Televisi

Tulisan ini dimuat di harian Banjarmasin Post, 26 Februari 2007. Lihat Opini.

Seiring gencarnya isu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), ada hal yang menggelitik saya berkaitan dengan fenomena anak usia dini (AUD). Anak kita ini, sering menjadi objek dalam dunia periklanan Indonesia, terutama di televisi. Anak memiliki potensi sesuai aslinya, yaitu kejujuran berkata, kepolosan perilaku dan apa adanya.

Saat ini, iklan di televisi kian beragam. Anak baik sebagai penyampai langsung atau figuran, berupaya mengajak pemirsa untuk mengonsumsi sebuah produk. Menjadi pertanyaan, benarkah anak an sich cukup menjadi daya tarik? Produsen makanan anak akan menggunakan anak (umumnya selebritis). Begitu pula kebutuhan yang bersentuhan langsung dengan dunia mereka. Di sini, anak masih dominan sebagai daya tarik. Atau dimaksudkan oleh produsen sebagai ‘pengatrol’ angka penjualan.

Ada yang patut dicemaskan tentang posisi anak sebagai penyampai pesan, yakni pembudayaan berbohong kepada khalayak. Anak dilatih untuk mengakui kelebihan sebuah produk, padahal ia sama sekali tidak mengetahuinya. Ini diperparah dengan dukungan sikap orangtua mereka, bahkan dengan alasan pengembangan bakat si anak. Kulturisasi yang dilakukan sejak dini ini, berarti memperkenalkan anak pada sebuah dunia imajiner. Dunia imajiner ini berbeda dengan daya khayal mereka yang bersifat alamiah. Secara psikologi, anak dibiarkan pada ancaman hipokretisasi (kemunafikan). Substansi ini yang perlu dikedepankan.

Selain substansi di atas, iklan di televisi terkait erat dengan program acara. Iklan bukan sekadar pengiring jeda sebuah tayangan. Sederhananya, mana yang lebih berdampak buruk pada anak: iklan atau program acara? Tentu bukan untuk memisahkan satu sama lain antara iklan dan acara. Keduanya sama-sama memiliki dampak pada perkembangan anak. Di sisi lain, perkembangan komunikasi periklanan saat ini sedemikian maju. Tayangan iklan tidak lagi berperan sebagai penyampai informasi produk, tetapi sekaligus sebagai media hiburan dan pendidikan.

Kemajuan komunikasi periklanan mengharuskan adanya keadilan dalam pembuatan regulasi. Di samping tetap menghargai kreativitas, penting pula penegakan hukum. Iklan yang membohongi konsumen, terlebih melibatkan anak, tidak ada pilihan lain kecuali diberi sanksi yang berat. Begitu juga dengan batasan dalam kode etik periklanan. Dikaitkan dengan perkembangan komunikasi, kode etik bukan lagi aturan normatif yang bersifat global. Kode etik harus mengakomodasi batasan kreativitas yang tidak bertentangan dengan perlindungan anak.

Kamuflase produsen

Pemerintah selaku pihak yang membuat regulasi periklanan, belum serius memperhatikan hak anak. Dalam hal ini, pemerintah kurang melakukan kontrol atas tayangan iklan (utamanya) melalui televisi. Seakan, pemerintah lepas dari tanggung jawab setelah aturan formal telah ditetapkan.

Begitu pula dengan penilaian iklan. Terjadi selama ini kerap mengabaikan hak anak; parameternya baru sebatas popularitas di mata pemirsa, itu pun dilakukan oleh pemirsa dewasa. Belum ada kesungguhan untuk memberikan penganugerahan atas produsen yang berempati pada hak anak. Produsen tidak atau belum diberikan stimulasi untuk berlomba membuat tayangan iklan yang bervisi edukatif, sekaligus menghibur utamanya bagi anak-anak.

Penekanan tulisan ini sebetulnya pada aspek moral anak kita. Gambaran apa pun yang ditampakkan anak, akan berpengaruh nyata bagi aspek kepribadian mereka. Kotak ajaib yang sudah masuk ke seluruh sendi kehidupan itu, memperkenalkan modernisme yang dimaknai dengan budaya hedon, konsumeris dan skeptis terhadap nilai agama. Untuk melindunginya, seluruh pihak harus melakukan peran strategis yang integral.

Anak, produsen, pemerintah, masyarakat dan televisi pada akhirnya menjadi entitas yang terintegral dalam mewujudkan tayangan iklan yang lebih bervisi. Peranan acara tidak bisa dipinggirkan. Saatnya televisi menunjukkan kebesaran jiwa, untuk tidak mudah menerima tayangan iklan yang rentan menimbulkan kontroversi.

Selain yang melibatkan anak, iklan untuk konsumsi orang dewasa harus dikritisi pula. Bila iklan anak sebatas pada pembudayaan konsumerisme, maka tayangan iklan produk nonanak-anak berdampak pada disharmoni moral. Dengan kata lain, implikasi untuk iklan produk dewasa --yang tidak layak tonton untuk anak-- lebih besar daripada ajakan untuk lebih konsumtif (pada iklan anak).

Begitu juga dengan acara di televisi. Kini saatnya pelibatan anak tidak sekadar sebagai objek pasif. Setidaknya memperhatikan hak mereka. Saat ini, eksploitasi tidak hanya dilakukan produsen, tetapi juga televisi. Saatnya kini, masyarakat terlibat aktif; bukan lagi sebagai perespon atas iklan, tetapi juga pelaku yang berhak untuk dilibatkan. Semuanya bukan untuk membatasi kreativitas. Bahkan, kreativitas itu dikelola untuk sebuah visi: mencerdaskan anak.[]

1 comment:

  1. Iklan dengan eksploitasi anak semakin marak, jika kita amati iklan di TV, bahkan sudah terlalu "jauh", ada iklan yg tidak ada hubungannya dengan anak tetapi yang ditampilkan justru anak.

    ReplyDelete