Wednesday, February 21, 2007

Budaya, Bahasa, Lintas Banua

Banjarmasin adalah kota yang plural. Menurut sensus tahun 2000 saja, penduduknya sangat beragam. Dalam sensus itu diperoleh data sebagai berikut; Suku Banjar: 417.309 jiwa, Suku Jawa: 56.513 jiwa, Suku Madura: 12.759 jiwa, Suku Bukit: 7.836 jiwa, Suku Bugis: 2.861 jiwa, Suku Sunda: 2.319 jiwa, Suku Bakumpai: 1.048 jiwa, Suku Mandar: 105 jiwa, sisanya: 26.500 jiwa belum teridentifikasi. Jumlah terbanyak tetap urang Banjar, dan peringkat kedua adalah tiyang Djawi.

Sebetulnya, dalam sejarah migrasi manusia, diperoleh keterangan bahwa urang Banjar bukanlah asli Borneo (atau Banua, kata orang sini). Suku bangsa Banjar diduga berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya—setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasa dinamakan sebagai suku Dayak dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan—terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu, dan Banjar (Kuala).

Banjarmasin sendiri secara budaya, banyak dihuni suku Banjar Pahuluan. Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu—sebelum dihapuskan pada tahun 1860—adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman, terakhir di Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.

Sebagaimana lazimnya kota pelabuhan, maka pluralitas adalah konsekuensi. Mereka ada yang datang untuk berdagang, bekerja atau transmigrasi—kebijakan ”pemerataan penduduk” ala Orba. Selanjutnya terjadi pergumulan budaya, adat dan kebiasaan. Terjadilah apa yang disebut pembauran, percampuran. Sinkretisme.

Bahasa

Tentang persilangan budaya antara mereka. Pertama adalah bahasa. Aku agak terkejut, ketika mengetahui bahwa di Banjar, kata nggih juga berarti ya, sama dengan bahasa Jawa krama inggil. Panggilan untuk orang kedua tunggal juga pian, yang jelas sekali berasal dari kata sampeyan (Jawa krama madya), sementara panggilan untuk diri sendiri adalah ulun, ini juga memiliki akar dari pukulun, bahasa Jawa kuno yang sekarang hanya dipakai dalam dunia pewayangan Jawa. Selebihnya, terdapat ratusan kata yang memiliki padanan dari bahasa Jawa. Klik di sini.

Kegagapan aku rasakan juga saat harus berkomunikasi. Aku lebih banyak diam memperhatikan teman-teman sesama pegawai yang berbicara bersahutan. Pelan-pelan beberapa nama benda dan kata kerja aku hafalkan. Ternyata ketika praktek, yang terjadi tetap lucu. Yang paling kutahu adalah kada—yang berarti tidak, sama dengan ora/mboten [Jawa], tara/tra [Manado, Ternate, Papua], seng [Ambon]. Selebihnya belum.

Yang perlu dihafalkan—untuk memiliki kesempurnaan dialek—adalah kata selipan. Di setiap bahasa suku, selalu ada kata selipan yang kadang tidak bermakna apa-apa selain hanya merupakan dialek biasa. Misalnya imbuhan je (Jogja), ndak...leh (Grobogan), sudah! (Ternate), dsb. Sementara di Banjar ini, ada kata semisal jar, pang, lah, kah yang menurutku hanya selipan atau imbuhan sebagai bukti dialek. Begitulah bahasa.

Silang Darah

Seorang kawan suku Banjar pernah berkata, “generasi ketiga dari persilangan perkawinan, akan lebih fasih berbahasa Indonesia, daripada bahasa Banjar atau Jawa.” Ada beberapa kenalan baru, orang Jawa menikah dengan akhwat Banjar, atau sebaliknya. Asimilasi kemudian terjadi. Biasanya, dalam perkawinan silang budaya seperti ini, yang dominan adalah ibu. Anak akan mengikuti kebiasaan bahasa ibu.

Akibatnya lalu, generasi berikutnya akan semakin mengindonesia. Bahwa suku adalah identitas utama, akan digantikan oleh spirit nasional Nusantara. Identifikasi diri seorang anak itu menjadi penting, karena itu akan membentuk ego, membentuk kebanggaan dan pola sikap terhadap bubuhan (komunitas, bhs Banjar) lain.

Namun mungkin, yang paling harus ditekankan adalah identitas sebagai muslim. Bahwa seorang muslim tidak lagi berfikir tentang apa sukumu, namun bertanya siapa Tuhanmu. Maksudnya adalah bahwa identitas keislaman (bertuhankan Allah dan mengakui Muhammad sebagai rasul terakhir) menjadi identitas fundamental baginya. Bilal berasal dari Ethiopia, Salman berasal dari Mesopotamia, beberapa sahabat Nabi juga aslinya Romawi—yang notabene Eropa. Dan, mereka ada dalam komunitas Islam.[]

No comments:

Post a Comment